Teknologi

BRIN Kajian Hot-Cool Media: Karakter Platform dan Pengaruhnya pada DPR RI

Bagikan:
Forum diskusi BRIN membahas karakter media sosial dan teori hot-cool McLuhan

BRIN melalui Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) membahas relevansi teori hot-cool media McLuhan dalam konteks media sosial pada Forum Diskusi Budaya, Senin, 28 September 2026 di Jakarta. Penelitian kolaboratif antara peneliti BRIN dan akademisi memusatkan studi pada akun resmi DPR RI untuk menelaah perbedaan karakter platform, pola keterlibatan audiens, dan implikasi komunikasi publik.

Latar penelitian dan objek kajian

Penelitian berjudul Platform Affordances, Audience Engagement, and the Continuing Relevance of McLuhan’s Hot-Cold Media Theory mengamati bagaimana fitur platform memengaruhi cara pesan disampaikan dan diterima. Studi ini melibatkan analisis konten dan pola interaksi di beberapa platform populer yang digunakan DPR RI sebagai saluran komunikasi publik.

Karakter platform dan implikasi komunikasi

Penelitian menemukan bahwa setiap platform memiliki karakter berbeda yang memengaruhi strategi komunikasi. X bersifat dinamis dan dapat berperan sebagai hot maupun cool tergantung isu, momentum, dan strategi penyampaian. YouTube menawarkan kekayaan informasi dan intensitas audiovisual tinggi. Facebook relatif menyediakan ruang partisipasi dan diskusi yang lebih luas.

Handrini Ardiyanti dari PRMB mengatakan strategi perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi dan karakter platform. Pesan informatif lebih cocok ke platform yang mampu menyajikan informasi lengkap, sementara pesan yang ingin mengumpulkan aspirasi publik diarahkan ke platform dengan ruang partisipasi lebih besar.

Mendefinisi ulang engagement

Hasil penelitian merekomendasikan redefinisi konsep audience engagement. Keterlibatan tidak hanya diukur dari like, komentar, atau share. Audiens juga dapat menafsirkan dan membentuk makna tanpa meninggalkan jejak interaksi yang terlihat.

"Tidak semua informasi harus diarahkan untuk menghasilkan dialog dengan intensitas tinggi. Sebaliknya, ketika tujuan komunikasi adalah memperoleh aspirasi masyarakat, fitur dan karakteristik platform yang memungkinkan partisipasi lebih luas dapat dimanfaatkan,"

ujar Handrini.

Rekonstruksi teori hot-cool di era digital

Prof. Anang Sujoko dari Universitas Brawijaya menegaskan bahwa pembagian hot dan cool tidak bisa diterapkan secara kaku. Pengguna hari ini juga menjadi produsen konten, dan algoritma platform menentukan distribusi serta keterlihatan pesan.

"Karakter hot dan cool dapat hadir secara bersamaan dan saling berinteraksi, bergantung pada teknologi, perilaku pengguna, serta bentuk partisipasi yang tersedia pada suatu platform,"

kata Prof. Anang.

Keduanya menyarankan pendekatan analitis berbasis empat dimensi: kekayaan informasi, intensitas sensorik, partisipasi audiens, dan affordance atau peluang tindakan yang disediakan platform. Pendekatan ini membantu memahami temperatur media digital secara lebih nuansa.

Implikasi kebijakan dan praktik

Temuan ini relevan bagi lembaga publik yang ingin merancang strategi komunikasi digital efektif. Selain menyesuaikan format pesan, lembaga perlu mempertimbangkan peran algoritma, tujuan komunikasi, dan indikator keterlibatan yang lebih holistik.

Pemahaman yang lebih komprehensif tentang karakter platform akan membantu meningkatkan kualitas interaksi publik dan efektivitas penyampaian informasi politik di era digital.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait