Anak Krakatau Erupsi, Kolom Letusan Diduga Capai Tropopause
Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak 4–5 September 2026, dengan aktivitas tercatat dari pukul 23.07 WIB hingga sekitar 04.40 WIB di Selat Sunda. Peneliti BRIN memperkirakan kolom letusan mencapai 13–14 kilometer dan menyentuh tropopause, sementara PVMBG menyatakan belum ada indikasi runtuhan besar yang memicu tsunami.
Data dan pengamatan
PVMBG Kementerian ESDM melaporkan erupsi menerus yang menyerupai fenomena lava fountain. Semburan berwarna merah terlihat secara konsisten dari kawah Gunung Anak Krakatau.
Pengamatan ini memperkuat catatan adanya aktivitas vulkanik yang meningkat sejak awal September 2026. PVMBG juga terus memantau parameter kegempaan dan deformasi gunung.
Kolom erupsi dan penyebaran abu
Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menyampaikan hasil simulasi yang menunjukkan kolom erupsi tinggi. Menurutnya, awan pirokumulus membawa material vulkanik dan sulfur oksida.
“Berdasarkan simulasi, letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13–14 km, menyentuh ketinggian tropopause.”
Erma menambahkan bahwa awan hasil erupsi bergerak ke arah barat dengan jangkauan sekitar 851 kilometer. Ia juga mencatat jejak material terpantau hingga Pulau Enggano, Bengkulu.
"Dalam kondisi tertentu, angin laut yang kuat dan tekanan rendah di wilayah Banten dapat membuat awan vulkanik bergerak menuju Serang dan daerah sekitarnya."
Risiko tsunami dan status gunung
Meskipun kolom erupsi tinggi, PVMBG menegaskan publik tidak perlu langsung mengaitkannya dengan ancaman tsunami. Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menyatakan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk pasca-2018 masih relatif kecil.
“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil. Tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.”
Sejak 2 Juli 2026, status Anak Krakatau ditetapkan pada Level III (Siaga). Masyarakat diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer dan mengikuti imbauan resmi.
Sejarah dan konteks
Perhatian terhadap Anak Krakatau juga dipicu sejarah letusan besar tahun 1883 yang berdampak global. Selain itu, runtuhan sebagian tubuh gunung pada 22 Desember 2018 sempat memicu tsunami yang melanda pesisir Banten dan Lampung.
Karena latar sejarah tersebut, peningkatan aktivitas Anak Krakatau mendapat sorotan nasional dan internasional. Otoritas terkait akan terus memantau perkembangan untuk memberi peringatan dini jika kondisi berubah.
Pemantauan intensif dan pembaruan status akan menjadi kunci bagi keselamatan warga pesisir dan pelayaran di Selat Sunda.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
SDN Anyelir 1 Depok Wajibkan Masker Antisipasi Abu Vulkanik
SDN Anyelir 1 Depok mewajibkan siswa memakai masker dan batasi aktivitas luar untuk cegah dampak abu vulkani...
Rute Makassar-Singapura Paling Terdampak Penutupan Soekarno-Hatta
Rute Makassar dan Singapura paling terdampak penutupan Bandara Soekarno‑Hatta akibat sebaran abu Anak Krakat...
MRT Jakarta Tetap Beroperasi Normal Meski Abu Vulkanik
MRT Jakarta tetap beroperasi normal pada 6 Sept 2026 meski beberapa wilayah terdampak abu vulkanik; penumpan...
Soekarno-Hatta Ditutup Sementara Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau
Soekarno-Hatta ditutup sementara hingga 09.30 WIB karena abu Anak Krakatau; 33 penerbangan terdampak, 16 int...
Indef: Garis Kemiskinan BPS Perlu Disesuaikan
Indef minta penyesuaian garis kemiskinan BPS sesuai pendapatan per kapita, dorong kerja produktif dan pembar...
CFD Tetap Ramai, Warga Waspadai Dampak Abu Vulkanik
CFD Jakarta tetap ramai pada 6 Sept 2026 meski ada sebaran abu vulkanik; warga pakai masker dan berharap ara...