Lokal

Alam Peudeung, Bendera Kesultanan Aceh Jadi Simbol Identitas

Bagikan:
Bendera Alam Peudeung merah dengan bulan sabit, bintang, dan pedang putih

BANDA ACEH — Aliansi Mahasiswa Pemuda Aceh Leuser Antara menyerukan pelestarian Alam Peudeung sebagai simbol identitas sejarah Aceh. Pernyataan itu disampaikan Senin (29/6) di Banda Aceh, dengan alasan bahwa panji tersebut berakar dari Kesultanan Aceh Darussalam dan mencerminkan nilai keberanian, keadilan, serta kedaulatan.

Asal-usul dan makna bendera

Bendera yang dikenal sebagai Alam Peudeung memiliki latar merah dengan lambang bulan sabit, bintang, dan sebilah pedang berwarna putih. Elemen ini menurut catatan sejarah mengandung simbol kekuatan, keberanian, dan keadilan Kesultanan Aceh.

Sejumlah kajian menyebutkan bahwa panji ini telah muncul sejak perkembangan awal Kesultanan Aceh pada abad ke-15 hingga ke-16. Penggunaan resmi berlanjut hingga masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636) dan tetap dipakai sampai akhir perang melawan kolonial pada awal abad ke-20.

  • Abad ke-15 sampai ke-16: awal penggunaan panji;
  • Masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636): perkembangan dan penyebaran simbol;
  • Awal abad ke-20: masih menjadi simbol resmi hingga berakhirnya perang Aceh.

Tuntutan Aliansi dan alasan historis

Koordinator Aliansi, Said Ahmad, menegaskan pentingnya legitimasi budaya dan historis Alam Peudeung bagi masyarakat Aceh. Ia menolak narasi bahwa simbol ini merupakan produk dinamika politik modern.

“Bendera Alam Peudeung bukanlah simbol yang lahir dari dinamika politik modern, melainkan bagian dari warisan Kesultanan Aceh Darussalam yang telah dikenal selama berabad-abad. Simbol ini mencerminkan kejayaan, persatuan, dan kedaulatan Aceh pada masa lalu.”

Menurut Said, pengakuan terhadap simbol sejarah dapat membantu merangkul seluruh elemen masyarakat berdasarkan sejarah bersama.

Imbauan agar tidak dipolitisasi

Aliansi juga mengingatkan agar pembahasan simbol daerah tidak berubah menjadi arena polarisasi politik. Mereka mendorong penggunaan simbol yang berakar pada sejarah dan kebudayaan untuk memperkuat persatuan.

“Kami berharap tidak ada lagi penggunaan simbol-simbol yang menimbulkan perdebatan politik berkepanjangan. Sudah saatnya masyarakat Aceh mengedepankan simbol yang berakar pada sejarah dan kebudayaan sehingga dapat menjadi perekat persatuan seluruh rakyat Aceh.”

Pelestarian dalam bingkai negara

Aliansi menekankan bahwa melestarikan Alam Peudeung bukan untuk menghidupkan romantisme politik masa lalu, melainkan menghormati sejarah dan kebudayaan Aceh sebagai bagian dari khazanah bangsa.

Mereka mengajak tokoh adat, akademisi, sejarawan, pemerintah, dan masyarakat untuk berdialog secara objektif, berbasis fakta sejarah. Tujuannya agar identitas Aceh menjadi kekuatan pemersatu bagi generasi mendatang.

Alam Peudeung tetap muncul dalam berbagai tradisi adat sebagai simbol pelestarian sejarah dan kebesaran Kesultanan Aceh Darussalam.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait