Anak Pembunuh Ibu di Medan Divonis 5 Bulan Perawatan Psikologi
Medan — Seorang anak berinisial AL yang didakwa membunuh ibu kandungnya, FS, divonis menjalani perawatan dan pendampingan psikologi selama 5 bulan oleh Pengadilan Negeri Medan. Putusan itu disampaikan pada sidang yang dikonfirmasi oleh Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Medan, Valentino Harry Manurung, Selasa (30/6).
Ringkasan putusan
Majelis hakim memutuskan AL harus menjalani perawatan di Balai Sentra Bahagia Kementerian Sosial (Kemensos) di Medan selama lima bulan. Pendampingan pelaksanaan perawatan akan dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas).
"Putusan perawatan dan pendampingan di Balai Sentra Bahagia Kementerian Sosial (Kemensos) di Medan selama 5 bulan dengan pendampingan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas). JPU pikir-pikir karena pihak penasihat hukum anak juga pikir-pikir,"
Dasar hukum dan posisi jaksa
Majelis hakim menyatakan perbuatan AL terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana didakwa dalam dakwaan alternatif pertama. Putusan mengacu pada Pasal 458 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2023 jo. UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut agar AL menjalani perawatan psikologi dan intervensi di Lembaga Kesejahteraan Sosial Tanjung Morawa selama delapan bulan, dengan pendampingan dan pembimbingan dari Bapas. Namun, pada putusan hakim JPU menyatakan pikir-pikir untuk menentukan sikap atas vonis tersebut.
Kronologi kejadian
Perkara berakar pada peristiwa pembunuhan yang terjadi pada Rabu, 10 Desember 2025, dini hari. Korban FS ditemukan tewas setelah mengalami sejumlah luka tusuk akibat pisau yang ditusukkan ke tubuhnya saat tidur.
Meski sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, nyawa FS tidak tertolong. Keterangan yang beredar menyebutkan motif sementara adalah rasa sakit hati yang dipendam pelaku.
Latar belakang kekerasan dalam keluarga
Keterangan juga menyebut bahwa FS diduga sering melakukan tindakan kekerasan fisik dan mengancam ayah serta kakak pelaku dengan menggunakan pisau. Kondisi itu menjadi konteks penting dalam proses penyelidikan dan persidangan.
Implikasi dan kelanjutan
Dengan vonis perawatan psikologi ini, fokus penanganan bergeser pada rehabilitasi dan pendampingan anak sesuai prosedur Sistem Peradilan Pidana Anak. Keputusan akhir oleh JPU menyusul setelah masa pikir-pikir berakhir.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PKS Minta Penjelasan Menyeluruh soal R-APBD Medan 2027
Fraksi PKS DPRD Medan meminta penjelasan rinci atas proyeksi pendapatan, pengurangan belanja, dan kesiapan p...
MUI dan Pemkab Simalungun Perkuat Sinergi Jelang Hari Santri
Bupati Simalungun terima kunjungan MUI untuk perkuat sinergi; bahas Hari Santri dan pengukuhan pengurus MUI...
PDIP DPRD Medan Desak Pemko Tanggung Jawab Atasi Krisis Air
Fraksi PDIP DPRD Medan minta Pemko tanggung jawab atasi krisis air, segera tetapkan pejabat definitif, dan p...
Hilirisasi Bauksit: Proyek Smelter Mempawah dan Tantangan Energi
Indonesia mulai memproses bauksit di Mempawah untuk memperbesar kapasitas alumina dan membangun pabrik peleb...
FPRMI Aceh Gelar Diskusi Potensi Jerat Pidana dalam Jurnalistik
FPRMI Aceh menggelar diskusi 15 Okt di Banda Aceh membahas batas kebebasan pers, etika, dan potensi pidana d...
Binjai Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan
Pemko Binjai tambah kendaraan, pasang CCTV TMA dan 14 sirene untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim...