BRIN: Tantangan Pendidikan Bergeser ke Peningkatan Kualitas
BRIN dan pemerintah menyatakan fokus pendidikan Indonesia pada 2026 bergeser dari semata perluasan akses ke peningkatan kualitas pembelajaran. Pernyataan ini disampaikan seiring target revitalisasi sekolah dan temuan data anak yang belum bersekolah, sebagai upaya memperbaiki mutu pendidikan nasional.
Target revitalisasi sekolah 2026
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menyatakan pemerintah menetapkan target revitalisasi besar-besaran pada 2026. Program itu meliputi perbaikan sarana-prasarana, penguatan tenaga pendidik, dan digitalisasi pembelajaran.
“Pemerintah telah menetapkan target revitalisasi pada tahun 2026 dengan jumlah 80.282 sekolah. Baik di bawah Kemendikdasmen maupun Kemenag, dulu tahun 2025 sekitar 60 ribu, sekarang ditambah menjadi 80 ribuan,”
Ojat menegaskan revitalisasi tidak boleh berhenti pada serah terima bangunan. Menurutnya, tujuan utama adalah menciptakan lonjakan kualitas pembelajaran di jenjang persekolahan.
Data anak tidak bersekolah dan penyebabnya
Pemerintah mencatat sekitar 190 ribu anak yang belum terdaftar di sekolah. Data ini digunakan sebagai dasar program agar anak-anak tersebut kembali memperoleh akses pendidikan.
Analisis menyebut beberapa faktor penyebab anak tidak bersekolah:
- Keadaan ekonomi keluarga
- Jarak dan akses transportasi ke sekolah
- Norma budaya dan kebiasaan lokal
- Keterbatasan infrastruktur pendidikan
Untuk mengatasi hambatan itu, pemerintah mendorong pembangunan Sekolah Rakyat dan memberikan dukungan bagi keluarga kurang mampu agar anak dapat kembali bersekolah.
Dari akses ke kualitas: tuntutan abad ke-21
Ketua Kelompok Riset Asesmen dan Pembelajaran Pusat Riset Pendidikan BRIN, Dr. Syahrul Ramadhan, menilai tantangan pendidikan kini lebih menitikberatkan pada kualitas pembelajaran.
“Kesesuaian antara pendidikan yang sekarang sedang dilakukan dengan perkembangan zaman di abad ke-21 ... ada literasi baru yang harus ditanamkan ke anak misalnya literasi digital, data, atau kecerdasan artifisial,”
Ia menekankan bahwa anak tidak sekadar mengonsumsi teknologi, melainkan harus mampu memahami, mengkritisi, dan menciptakan teknologi agar hasil belajar relevan bagi masyarakat.
Perbaikan capaian belajar dan PISA
Syahrul juga mengingatkan capaian pembelajaran siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Ia merujuk pada hasil PISA yang menunjukkan kemampuan numerasi dan literasi Indonesia berada di bawah rata-rata OECD.
Perbaikan kualitas, kata dia, harus mencakup kurikulum, pelatihan guru, dan pemanfaatan teknologi pendidikan secara tepat agar hasil belajar meningkat dan berdampak nyata.
Peralihan fokus dari kuantitas ke kualitas menuntut sinergi kebijakan, pendanaan, dan pemantauan implementasi agar target revitalisasi serta penguatan literasi abad ke-21 membuahkan peningkatan nyata dalam mutu pendidikan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kapolri: Berbeda Seragam, Satu Hati Menjaga Negeri — HUT TNI ke-81
Kapolri Suyudi tegaskan TNI dan Polri tetap "satu hati" menjaga Indonesia menjelang HUT TNI ke-81, 5 Oktober...
Basarnas Imbau Keluarga Korban KM Virgo Tidak Menunggu di Pelabuhan
Basarnas mengimbau keluarga korban KM Virgo agar tidak terus menunggu di pelabuhan; korban yang ditemukan ak...
Cara Mengurus Buku Nikah Rusak atau Hilang, Gratis di KUA
Buku nikah rusak atau hilang dapat diganti gratis di KUA tempat akad; ketahui persyaratan dan dasar hukumnya...
Mendag: Perlindungan Hak Pekerja Bukan Instrumen Politik
Mendag Budi Santoso menegaskan perlindungan hak pekerja bukan alat politik dan menekankan penanganan kerja p...
Produksi Padi Jan–Agust 2026 Capai 43,89 Juta Ton
Produksi padi Januari–Agustus 2026 tercatat 43,89 juta ton GKG, naik 0,07%; luas panen 8,32 juta ha dan prod...
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...