Rehabilitasi Mangrove Langkat Dongkrak Tangkapan dan UMKM
Langkat — Warga Pasar Rawa di Kecamatan Gebang, Langkat, memulihkan hutan mangrove sejak 2011 dan mendapat dukungan perusahaan energi sejak 2022. Upaya ini memulihkan ekosistem pesisir, meningkatkan tangkapan ikan, dan membuka peluang usaha baru seperti pengolahan Baronang Crispy untuk menambah penghasilan masyarakat.
Rehabilitasi komunitas dan dukungan teknis
Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Bersama berdiri pada 2011 dan kini beranggotakan 43 orang. Mereka mengelola sekitar 177,8 hektare kawasan Perhutanan Sosial melalui kegiatan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan secara swadaya.
Sejak 2022, upaya lokal itu diperkuat dengan dukungan Pertamina EP Pangkalan Susu. Bentuk bantuan meliputi pelatihan silvikultur, pengembangan UMKM dan ekowisata, serta pembangunan fasilitas seperti rumah produksi, homestay, dermaga, dan jalur tracking mangrove.
"Dulu orang berpikir bagaimana kayu ini bisa ditebang dan dibuat arang. Tapi setelah kami tanam dan lihat hasilnya, ternyata menanam membutuhkan waktu bertahun-tahun, sedangkan menebang hanya satu jam," ujar Ketua KTH Kasto Wahyudi pada Senin (7/9).
Manfaat ekonomi bagi nelayan dan perempuan pesisir
Rehabilitasi mangrove mengubah sumber pendapatan warga. Saat hutan belum pulih, pengrajin arang memperoleh sekitar Rp50 ribu per hari. Kini, hasil tangkapan ikan, udang, dan kepiting memberi penghasilan sekitar Rp100 ribu–Rp300 ribu per hari, bergantung besaran tangkapan.
"Bisa tiga sampai lima kali lipat dibanding dulu," kata Kasto.
Sisi lain dari pemulihan ini adalah pengembangan usaha rumah tangga. KUPS Maju Bersama Kuliner dibentuk pada 2020 dan mengolah ikan baronang kecil menjadi Baronang Crispy. Sekali produksi biasanya membutuhkan sekitar 20 kilogram bahan baku dan dilakukan tiga kali seminggu; saat musim melimpah, pasokan bisa mencapai 200 kilogram.
"Kalau ikan kecil-kecil itu susah dijual. Kami beli ikan-ikan kecil yang memang tidak laku dijual di pasaran untuk kami olah menjadi keripik," jelas ketua KUPS, Safriani.
Produk dijual sekitar Rp15 ribu per kemasan dan dipasarkan lewat WhatsApp serta Facebook. Penjualan sudah menjangkau konsumen di Banda Aceh dan Pematangsiantar, serta dititipkan di pusat oleh-oleh. Namun keterbatasan modal untuk pengemasan, pengiriman, dan penambahan kapasitas produksi menjadi kendala ekspansi, termasuk peluang pasar Malaysia.
"Kami ingin masuk marketplace juga. Tapi produksi dan modalnya masih harus diperkuat," tutur Safriani.
Peran korporasi dan prospek jangka panjang
Field Manager Pertamina EP Pangkalan Susu, Edwin Susanto, menegaskan rehabilitasi mangrove memiliki manfaat ganda: menyelamatkan ekologi sekaligus menopang ekonomi pesisir. Perusahaan secara berkala menyalurkan bibit dan ikut menanam langsung untuk memperbaiki tutupan mangrove di wilayah operasi yang banyak beririsan dengan pesisir.
"Rehabilitasi ekosistem mangrove tak hanya menyelamatkan ekologi, tetapi juga menopang ekonomi masyarakat pesisir," ujar Edwin.
Selain peningkatan tangkapan dan UMKM, kawasan mangrove kini juga dikembangkan sebagai ruang edukasi dan ekowisata. Homestay menerima pengunjung dari kota terdekat untuk berlibur, memancing, atau studi lapang. Peluang ke depan meliputi skala produksi yang lebih besar, akses pasar digital, dan dukungan pembiayaan untuk ekspor—syarat agar manfaat ekosistem menjadi lebih luas dan berkelanjutan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Carlos FC Lhoknga vs Putra Lhoong: Laga Penutup Penyisihan Carlos Cup 2026
Carlos FC Lhoknga hadapi Putra Lhoong di laga penutup penyisihan Carlos Cup 2026, Senin 7 Sept di Stadion Mi...
PT SBA Raih SMSI Aceh Award 2026 untuk Perusahaan Peduli Sosial
PT Solusi Bangun Andalas menerima SMSI Aceh Award 2026 kategori Perusahaan Peduli Sosial dan Lingkungan atas...
Wali Kota Hadiri Maulid di Masjid Jamik Lueng Bata
Wali Kota Illiza hadiri Maulid di Masjid Jamik Lueng Bata, Minggu (6/9), bersama pejabat dan warga untuk mem...
Warga Protes Proyek Irigasi Rawang Lama di Asahan Amburadul
Warga Rawang Lama, Asahan, protes proyek irigasi 2026 senilai Rp195 juta yang dinilai retak, ambles, dan dik...
Limbah Pascabanjir Lubuk Sidup Diolah Jadi Biopot untuk Pertanian
Sisa kayu dan lumpur pascabanjir di Lubuk Sidup diolah menjadi biopot sebagai media tanam sekaligus sumber p...
Sengketa Yayasan Guncang Universitas Darma Agung, 830 Mahasiswa
Sengketa antara UDA dan YPDA sejak Feb 2025 meluas ke pengadilan, menimbulkan dualisme kepemimpinan dan berd...