Limbah Pascabanjir Lubuk Sidup Diolah Jadi Biopot untuk Pertanian
Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang — Banjir yang menimpa desa ini meninggalkan tumpukan kayu, lumpur, dan limbah organik. Material pascabanjir itu kini diolah menjadi biopot, media tanam ramah lingkungan yang sekaligus membuka peluang pemulihan ekonomi lokal.
Inovasi sederhana dari sisa banjir
Biopot dibuat dengan mencacah sisa kayu dan mencampurkannya bersama lumpur serta bahan pendukung lain. Campuran ini dicetak pada cetakan khusus dan dikeringkan hingga padat. Hasilnya dapat berfungsi sebagai wadah pembibitan, bahan kompos, dan akan terurai secara alami ketika ditanam di tanah.
Proses produksi dan jaminan kualitas
Sebelum diproduksi massal, produk biopot diuji di Laboratorium Proses Industri Kimia untuk memastikan kualitas dan kelayakan penggunaan. Setelah itu digelar sosialisasi dan pelatihan kepada kelompok tani sebagai mitra penerima manfaat.
Manfaat lingkungan dan sosial
Pemanfaatan kayu dan lumpur pascabanjir mengurangi penumpukan material yang mengganggu aktivitas warga. Selain itu, produksi biopot memberi alternatif pemulihan mata pencaharian bagi masyarakat terdampak.
Keterkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan
Program ini mendukung beberapa target SDGs melalui pendekatan berbasis komunitas:
- SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): menciptakan peluang usaha pertanian untuk pemulihan ekonomi pascabencana.
- SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): pembentukan unit usaha biopot dan penguatan kapasitas kewirausahaan warga.
- SDG 11 (Permukiman Berkelanjutan): rehabilitasi lahan pertanian dan pengurangan risiko lingkungan serta kesehatan.
- SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab): mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomis.
Tim pelaksana dan keberlanjutan
Kegiatan dijalankan dalam Program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Kolaborasi Nasional. Tim inti terdiri atas Prof. Dr. Ir. Hamidah Harahap, MSc (ketua), Prof. Ir. Lilis Sukeksi, MSc, PhD, Ridwansyah, STP, M.Si, Tania Alda, S.T., M.T, serta mitra Dr. Ernawita, S.Si., M.Sc.
Pelatihan yang diberikan bertujuan agar kelompok tani mampu memproduksi biopot secara mandiri dan berkelanjutan. Pengembangan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pascabencana, tetapi menjadi produk lokal bernilai ekonomi.
Masyarakat dapat memproduksi biopot secara mandiri untuk kebutuhan persemaian, sebagai pupuk maupun dikembangkan sebagai produk usaha.
Langkah ini menunjukkan pendekatan pemulihan bencana yang berorientasi lingkungan dan ekonomi. Ke depan, keberlanjutan usaha biopot akan bergantung pada adopsi teknologi oleh kelompok tani, kualitas produk, dan akses pasar lokal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Banda Aceh Pasang Kembali Dua Pompa di Underpass Beurawe
Dinas PUPR Banda Aceh memasang kembali dua pompa di Underpass Beurawe pada 21/10 pasca pencurian kabel; kini...
DQA Aceh Peringati Hari Santri 2026: Apresiasi Santri MTQ dan Sembako
Dayah Darul Quran Aceh peringati Hari Santri 2026 dengan apel, penghargaan untuk santri MTQ Nasional, dan pe...
Kejari Aceh Besar Sosialisasi Pencegahan Korupsi Dana Desa
Kejari Aceh Besar menggelar sosialisasi pencegahan korupsi dana desa di Darul Imarah untuk memperkuat tata k...
Sabang Gelar Gerakan Pangan Murah 300 Paket pada Hari Pangan 2026
Sabang menggelar Gerakan Pangan Murah 22 Oktober 2026 menyediakan 300 paket bahan pokok seharga Rp125.500 un...
Festival Seni dan Qasidah Pematangsiantar 2026 Digelar, 156 Peserta Berlomba
Pemko Pematangsiantar menggelar Festival Seni dan Qasidah 21–22 Okt 2026 dengan 156 peserta; pemenang akan m...
GPM Simalungun: Pasar Murah di Panei Tekan Harga Pangan
Pemkab Simalungun gelar Gerakan Pangan Murah di Panei (22/10/2026) untuk stabilkan harga dan bantu daya beli...