Teknologi

Kurang dari 10% Jamur Bisa Dimakan, BRIN Ungkap Potensi Jamur Pangan

Bagikan:
Ilustrasi jamur tiram dan variasi jamur pangan dengan latar meja dapur

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan bahwa dari sekitar 10.000 jenis jamur di dunia, kurang dari 10 persen yang dapat dikonsumsi. Pernyataan itu disampaikan oleh peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Iwan Saskiawan, dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi Ir. Soekarno, Cibinong, pada 16 September 2026. Menurut Iwan, selain sebagai bahan pangan, jamur menyimpan potensi gizi dan senyawa aktif yang bisa dikembangkan menjadi pangan fungsional dan bahan baku obat.

Kaya Protein dan Beragam Nutrisi

Iwan menjelaskan bahwa secara umum jamur memiliki kandungan gizi tinggi. Rata-rata protein jamur berada pada kisaran 19–35 persen, jauh di atas beras (sekitar 7,38 persen) dan lebih tinggi dari gandum (13,2 persen). Seratnya berkisar antara 7,4–24,6 persen dan kandungan lemak sebagian besar berupa lemak tidak jenuh (sekitar 72 persen).

Jamur juga menyediakan asam amino esensial dan berbagai vitamin serta mineral penting. Data yang disebutkan Iwan meliputi:

  • Vitamin: B1, B2, niasin, biotin, dan vitamin C (pada beberapa spesies)
  • Mineral: kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, besi, tembaga, dan seng

Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6 persen juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah

Jamur Tiram: Contoh Pangan Fungsional

Salah satu jenis yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram (Pleurotus sp.). Iwan menyebutkan komposisi jamur tiram meliputi protein 19–30 persen dan karbohidrat 50–60 persen, disertai vitamin B, vitamin C, dan mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, serta seng.

Selain itu, jamur tiram mengandung pleuran, sejenis polisakarida sederhana yang memiliki aktivitas antioksidan. Karena kombinasi nutrisi dan senyawa bioaktif ini, jamur tiram dinilai memenuhi kriteria sebagai pangan fungsional.

Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional

Jenis Lokal dan Aplikasi di Lapangan

Di samping jamur tiram dan jamur kuping, masyarakat Indonesia mengenal jamur dari alam seperti jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), dan jamur pelawan (Heimioporus sp.). Pemanfaatan tidak terbatas pada konsumsi langsung. Contoh nyata aplikasi di lapangan adalah penggunaan jamur tiram oleh bidan desa Sunarti untuk menangani gizi buruk balita. Jamur diolah menjadi berbagai makanan yang sesuai untuk kelompok usia berbeda.

Peluang Bioprospeksi dan Langkah Ke Depan

Iwan menekankan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia membuka peluang bioprospeksi jamur—menggali potensi biologis untuk produk pangan fungsional dan obat. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu tentang jamur, pengembangan riset terpadu, dan kolaborasi antara peneliti, industri budidaya, serta perusahaan farmasi.

Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat, penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini

Penguatan kapasitas riset dan kemitraan penelitian‑industri diharapkan mendorong nilai tambah jamur dari meja makan menuju produk bernilai tinggi. Langkah itu penting agar potensi nutrisi dan senyawa aktif jamur bisa dimanfaatkan secara terarah untuk kesehatan dan industri.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait