Hiburan

Monster Pabrik Rambut Andalkan Efek Praktikal, Minim CGI

Bagikan:

Film Monster Pabrik Rambut memilih pendekatan efek praktikal untuk hampir seluruh adegan horornya. Sutradara Edwin mengungkapkan pada keterangan tertulis, Senin 8 Juni 2026, sekitar 90 persen efek dibuat secara fisik untuk menghadirkan sensasi visual yang lebih nyata bagi penonton.

Dominasi efek praktikal

Tim produksi fokus pada pembuatan monster dan elemen fantasi secara fisik. Rangkaian kostum, prostetik, dan mekanik dipakai agar interaksi aktor dan lingkungan terasa organik. Metode ini juga menempatkan manusia di balik beberapa makhluk untuk gerak yang lebih natural.

Hampir 90 persen practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami juga banyak menggunakan teknik sling,

Rambut bergerak dan rekaman dalam air

Rambut yang tampak hidup di layar dibuat dengan teknik khusus dan sejumlah pengambilan gambar direkam di dalam air. Teknik ini memberi gerak yang lebih halus dan tidak kaku seperti efek komputer murni.

Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik,

Teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD)

Selain praktikal, tim memakai proses DFD untuk memberi tekstur visual klasik pada gambar. Proses ini mencetak rekaman digital ke pita seluloid, lalu memindai kembali ke format digital sehingga tampilan akhir memiliki karakter film era 1980-an.

Sumber inspirasi dan gaya naratif

Penulis skenario Eka Kurniawan mengakui inspirasi monster hadir dari komik Indonesia era 1980-an, termasuk sosok grotesk dalam komik Petruk Gareng karya Tatang S. Edwin lalu mengembangkan referensi itu menjadi dunia horor fantasi yang tidak bergantung pada jump scare atau mitologi populer.

Eksperimen visual dan penutup

Di bagian akhir, film memadukan bahasa sinema dan estetika komik lewat warna cerah dan komposisi gambar ekspresif. Kombinasi horor, fantasi, dan estetika komik memberi identitas visual yang khas sekaligus menawarkan pengalaman berbeda dibanding film horor Indonesia umum.

Dengan mengutamakan efek praktikal sekaligus menyisipkan sentuhan proses analog seperti DFD, Monster Pabrik Rambut berusaha menghadirkan horor yang terasa corporeal dan sinematik, bukan sekadar digital.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait