MBG Buka Pasar untuk Petani Lokal, Harga Jeruk Kota Batu Naik
BGN menyatakan Program MBG bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi mulai membuka peluang pasar bagi petani dan peternak lokal. Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala BGN Sudaryono di Kota Batu, Jawa Timur, 21 September 2026.
Dampak ekonomi yang mulai terlihat
Sudaryono menilai dampak ekonomi Program MBG perlu mendapat perhatian publik agar tidak hanya berita negatif yang mengemuka. Ia meminta manfaat bagi petani dan peternak dipublikasikan untuk memberi gambaran nyata tentang program ini.
Keberadaan dapur SPPG menciptakan kebutuhan bahan pangan yang berlangsung rutin di sejumlah daerah. Ini harusnya dipublikasikan, impact positif ini harusnya juga disebarluaskan, jangan hanya berita negatif saja
Contoh konkret dari Kota Batu
BGN menyebut Kota Batu sebagai contoh daerah yang mulai merasakan efek penyerapan produksi lokal oleh dapur SPPG. Menurut Sudaryono, harga jeruk lokal yang sebelumnya anjlok kini mengalami kenaikan signifikan.
Contohnya, harga jeruk lokal yang sebelumnya sempat anjlok di kisaran Rp5 ribu per kilogram. Kini melesat naik hingga mencapai Rp14 ribu per kilogram karena terserap sebagai penyuplai bahan baku gizi harian
Kenaikan harga tersebut menunjukkan adanya penyerapan pasar yang lebih stabil untuk komoditas tertentu ketika dapur SPPG beroperasi secara rutin.
Jenis komoditas yang terserap
Sudaryono menyebut Kota Batu memiliki ragam komoditas yang cocok dipasok ke dapur SPPG. Produk yang berpotensi terserap antara lain:
- Buah-buahan lokal seperti jeruk
- Sayuran segar
- Produk peternakan skala lokal
Tantangan dan kebutuhan pengukuran
Meski ada contoh kenaikan harga, Sudaryono mengakui data tersebut belum cukup untuk menggeneralisasi dampak positif MBG di seluruh daerah. Dibutuhkan pengukuran lebih menyeluruh untuk menilai kontribusi penyerapan dapur SPPG terhadap perubahan harga pasar.
Harapan terhadap rantai pasok berkelanjutan
BGN mendorong hubungan antara dapur SPPG dan produsen lokal tidak berhenti pada transaksi jangka pendek. Rantai pasok diharapkan berkembang menjadi kemitraan berkelanjutan yang mempertimbangkan harga, kualitas bahan, dan kapasitas produksi petani dan peternak.
Ke depan, BGN berharap rantai pasok antara SPPG dengan petani lokal bisa berjalan konsisten
Kesinambungan pasokan menjadi kunci bila SPPG ingin mengandalkan produk lokal sebagai pemenuhan kebutuhan pangan MBG. Penguatan data dan kemitraan akan menentukan seberapa luas manfaat ekonomi yang dapat dirasakan pelaku usaha pangan di daerah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BMKG: Awan Cumulonimbus Berpotensi Ganggu Penerbangan 21 Sept 2026
BMKG memperingatkan potensi awan cumulonimbus yang dapat mengganggu penerbangan pada 21 September 2026, dise...
Nusron Mundur dari Kepengurusan Golkar, Ini Penjelasan Resmi
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid mundur dari kepengurusan DPP Golkar lebih dari enam bulan lalu; partai menyebut...
Gempa Susulan NTT Capai 17.073 Kali, BMKG: Belum Mereda
BMKG: aktivitas gempa susulan di NTT mencapai 17.073 kali pasca-M7,7 Flores; gempa M5,1 tercatat 21 Sept 202...
KemenPPPA Ajak PERKHIN Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak
KemenPPPA mengajak PERKHIN memperkuat perlindungan perempuan dan anak lewat Ruang Bersama Indonesia, fokus h...
KAMI Nyatakan Dukungan untuk Program Prabowo dan Asta Cita
KAMI mendeklarasikan dukungan penuh pada program strategis pemerintahan Prabowo dan agenda Asta Cita untuk p...
Gempa M5,1 Guncang Lamba Leda, NTT — Tak Berpotensi Tsunami
Gempa M5,1 mengguncang Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT pagi ini. BMKG catat kedalaman 10 km; tidak berpoten...