Mahasiswa Dairi di Guangzhou: Belajar Mesin, Disiplin, dan Rindu Rumah
Guangzhou, China — Pukul 06.00 waktu setempat, Daniel Fransiskus Simarmata dan lima mahasiswa asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, memulai hari di asrama kampus. Mereka merupakan penerima beasiswa PT Dairi Prima Mineral (DPM) angkatan ketiga yang melanjutkan studi di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC). Jauh dari kampung halaman, mereka menyesuaikan diri dengan rutinitas kuliah, budaya digital, dan kehidupan mandiri.
Rutinitas dan adaptasi awal
Hidup di asrama membuat jadwal Daniel berubah. Ia bangun pagi, mandi, dan berjalan kaki ke kelas karena asrama berada di lingkungan kampus. Perbedaan paling mencolok menurutnya adalah kebiasaan masyarakat setempat menggunakan sistem pembayaran digital secara luas.
“Hal yang pertama kali menarik perhatian saya ketika tiba di Guangzhou adalah melihat orang-orang China, kemudian sistem pembayaran yang semuanya serba online,” ujar Daniel.
Pembelajaran teknologi dan disiplin waktu
Daniel mengambil jurusan Machinery Manufacturing and Automation. Program ini menekankan kombinasi teori dan praktik mesin, otomasi, serta proses manufaktur. Perkuliahan dimulai pukul 08.00 dan menuntut kedisiplinan tinggi.
Ia mencatat bahwa jam pelajaran berjalan tepat waktu dan jumlah hari libur lebih sedikit dibandingkan di Indonesia. Bahkan beberapa hari Minggu digunakan sebagai hari belajar untuk mengganti hari libur sebelumnya.
“Semua serba tepat waktu. Liburnya juga tergolong lebih sedikit dibanding Indonesia,” kata Daniel.
Bahasa, pengalaman lucu, dan kehidupan sosial
Kemampuan berbahasa Mandarin menjadi tantangan lain. Daniel pernah kehabisan kata saat ditanya arah oleh warga kampus karena belum fasih berbahasa setempat. Kejadian itu justru memotivasinya belajar Mandarin sedikit demi sedikit.
Di sela-sela kesibukan akademik, mahasiswa Indonesia dan China sering berkumpul untuk makan malam, bernyanyi, atau sekadar melepas penat. Malam hari biasanya diisi mengerjakan tugas dan mempersiapkan materi kuliah.
“Ada rasa rindu karena jaraknya jauh, sedih karena tidak akan berjumpa selama tiga tahun, tetapi juga senang karena masih bisa berkomunikasi dan menceritakan pengalaman baru di China,” tutur Daniel.
Rencana membawa pulang ilmu
Daniel berharap pengalaman di China bukan hanya sekadar gelar. Ia ingin menguasai keterampilan praktik mesin dan bahasa Mandarin untuk meningkatkan peluang kerja setelah kembali ke Indonesia.
Program beasiswa PT DPM yang dimulai sejak 2019 menjadi jembatan bagi generasi Dairi untuk mengenal teknologi, budaya, dan lingkungan pendidikan internasional. Bagi Daniel dan rekan-rekannya, studi di Guangzhou adalah investasi pengalaman dan keterampilan untuk masa depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Groundbreaking Huntap di Aceh Tamiang, Target 2.399 Unit 2026
Pemerintah memulai pembangunan 178 huntap di Alur Jambu, Aceh Tamiang, bagian dari target 2.399 unit pada 20...
Medan: Polrestabes Gagalkan Peredaran Vape Getar, Pemko Gandeng KPK
Polrestabes Medan menangkap pelaku dan menyita 450 bungkus vape getar; warga Medan Belawan hidup di dapur se...
PKA Sumut Belajar Tata Kelola Lingkungan ke DLH DKI
Puluhan calon pemimpin administrator Sumut mengikuti Studi Lapangan PKA ke DLH DKI Jakarta untuk mempelajari...
Aris Rinaldi Nasution Terpilih Kembali Ketua Forwakum Sumut 2026-2029
Aris Rinaldi Nasution kembali terpilih sebagai Ketua Forwakum Sumut 2026–2029 setelah unggul tipis dalam pem...
Polantas Karib: Sat Lantas Pematangsiantar Edukasi 60 Anak TK soal Lalu Lintas
Sat Lantas Polres Pematangsiantar menggelar Polantas Karib untuk 60 anak TK, mengajarkan rambu lalu lintas,...
Musda Golkar Aceh Tenggara: Karpet Merah untuk Kepengurusan Baru
DPD II Golkar Aceh Tenggara menggelar Musda ke-X pada 8-9 Oktober untuk menentukan kepengurusan baru dan ara...