Nasional

CELIOS: Kerugian Karhutla Jan–Agt 2026 Bisa Capai Rp123,1 Triliun

Bagikan:
Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan yang berdampak ekonomi dan kesehatan

Center for Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian negara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari–Agustus 2026 berpotensi mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun. Pernyataan itu disampaikan Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, pada 6 September 2026, yang menekankan angka tertinggi belum memasukkan skenario kebakaran meluas hingga akhir tahun.

Metode dan cakupan perhitungan

CELIOS menghitung kerugian menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh Kiely dkk. (2021) di jurnal Nature Communications, dipadukan dengan data historis World Bank untuk krisis 2015 dan 2019. Pendekatan ini memperhitungkan hilangnya aset fisik, kontraksi aktivitas ekonomi, serta biaya kesehatan langsung dan tidak langsung.

Dampak ekonomi nasional dan regional

Secara agregat, CELIOS mengestimasi kerugian ekonomi akibat hilangnya aset dan gangguan aktivitas mencapai Rp29,54 triliun, setara sekitar 0,23 persen PDB nasional. Nailul menekankan bahwa nilai tersebut bukan sekadar nilai lahan atau kayu yang hangus, tetapi juga kontraksi sektor perdagangan, pertanian, hingga akomodasi karena gangguan produksi dan kualitas udara.

Sebaran dampak per provinsi menunjukkan Kalimantan Barat menghadapi kerugian nominal terbesar. Penjabaran beberapa provinsi terdampak adalah sebagai berikut:

Provinsi Dampak Ekonomi (Rp triliun)
Kalimantan Barat 5,7
Papua Barat 4,3
Nusa Tenggara Timur 2,8

CELIOS juga mencatat potensi kehilangan penerimaan pajak daerah mencapai Rp269,86 miliar, dengan Jawa Timur mengalami potensi kerugian pajak terbesar sekitar Rp93,8 miliar dan Kalimantan Barat Rp28,9 miliar.

Biaya kesehatan: dua skenario

Laporan memisahkan perhitungan biaya kesehatan menjadi dua skenario: (1) masyarakat yang terdiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan, dan (2) masyarakat bergejala namun tidak sempat memeriksakan diri. Hasilnya sangat berbeda.

Skenario Estimasi Orang Total Biaya (Rp triliun)
Terdiagnosis oleh tenaga kesehatan 1,78 juta 9,75 (Rp7,13 T biaya langsung; Rp2,63 T tidak langsung)
Sakit bergejala termasuk yang tidak memeriksakan diri 17,4 juta 93,56 (setara 67,6% anggaran fungsi kesehatan APBN 2026)

"Yang menarik, ranking provinsi untuk biaya kesehatan tidak sejalan dengan ranking luas lahan terbakar,"

kata Nailul, menunjuk Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau sebagai tiga provinsi dengan beban biaya kesehatan terbesar meski luas lahan terbakar tidak setinggi di Kalimantan Barat.

Sebaran kebakaran dan implikasi

Berdasarkan data SIPONGI KLHK, luas areal terbakar nasional Januari–Agustus 2026 mencapai 202.010,96 hektare. Kalimantan Barat mendominasi dengan 38.310,86 hektare, diikuti Papua Selatan 25.838,53 hektare. Tren tahun ini menunjukkan kebakaran tidak lagi terkonsentrasi di sabuk gambut Sumatra–Kalimantan; lonjakan terjadi di Papua Selatan dan daerah non-gambut seperti NTT, NTB, serta Jawa Timur juga terdampak signifikan.

CELIOS memperingatkan dampak karhutla bersifat lintas wilayah dan sektor, mempengaruhi penerimaan fiskal dan rantai pasok industri seperti pengolahan kayu, pulp and paper, serta furnitur. Jika kebakaran meluas hingga akhir tahun, potensi kerugian negara dan beban kesehatan diperkirakan akan meningkat lebih jauh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait