Kemenkes: 68.919 Kasus ISPA Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Kementerian Kesehatan melaporkan 68.919 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terkait sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Data terbarui berlaku per 10 September 2026 dan wilayah terdampak mencakup 23 kabupaten di empat provinsi di Pulau Jawa dan Sumatra.
Sekilas angka dan perkembangan harian
Kemenkes mencatat lonjakan kasus yang masih berlanjut. Pada pelaporan hari ini dilaporkan 17.780 kasus ISPA terjadi dalam satu hari.
Situasi ISPA pada wilayah terdampak abu vulkani erupsi Gunung Anak Krakatau. Kasus ISPA hari ini, 17.780,
— Widyawati, Juru Bicara Kementerian Kesehatan
Sebaran usia pasien
Distribusi kasus menurut usia menunjukkan kelompok tertentu lebih terpengaruh. Tercatat 14.439 kasus pada usia 0-1 tahun, dan 54.480 kasus pada masyarakat di atas usia lima tahun.
Kesiapan layanan kesehatan
Untuk mitigasi dampak kesehatan, Kementerian Kesehatan menyiagakan jaringan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Detail kesiagaan meliputi:
- 413 rumah sakit dalam status siaga untuk menangani pasien ISPA dan kondisi lain terkait pernapasan.
- 830 Puskesmas menyiapkan pos pelayanan kesehatan di daerah terdampak.
- Mobilisasi bantuan oksigen berupa konsentrator: Lampung 10 unit dan Banten 20 unit.
Status Gunung Anak Krakatau dan imbauan BNPB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih pada level III (siaga). Otoritas kegunungapian mengimbau agar masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Otoritas kegunungapian masih merekomendasikan masyarakat, wisatawan dan pendakian tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9, pada 10 September 2026 pukul 13, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi,
— Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan
Impak dan langkah selanjutnya
Pemerintah daerah bersama Kemenkes dan BNPB terus memantau kondisi kesehatan masyarakat dan pergerakan abu vulkanik. Penguatan komunikasi risiko, distribusi alat kesehatan, dan pelayanan primer menjadi prioritas jangka pendek.
Warga di wilayah terdampak disarankan mengenakan masker, membatasi aktivitas luar ruangan saat abu terlihat, dan segera mencari layanan kesehatan bila mengalami gejala ISPA.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KLH Dorong Percepat Penyerahan Limbah PCBs untuk Capai Zero 2028
KLH mendorong percepatan penarikan dan penyerahan limbah PCBs ke fasilitas resmi untuk mencapai target Zero...
TNI AL Temukan Pelampung di Anyer, Belum Dipastikan Milik Jurnalis
TNI AL menemukan pelampung di perairan Anyer saat pencarian lima jurnalis hilang di Selat Sunda; keterkaitan...
Ratusan Ribu Terkena ISPA akibat Karhutla di Kalimantan dan Sumatra
Kemenkes: 113.336 kasus ISPA kumulatif akibat karhutla hingga 9 Sept 2026; 4.080 kasus baru dan empat korban...
TNI AL Temukan Pelampung saat Cari 5 Jurnalis di Anyer
TNI AL menemukan pelampung saat mencari lima jurnalis hilang kontak di perairan Anyer pada hari ketiga penca...
Wapres Tinjau Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng
Wapres Gibran meninjau Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng (10 Sept 2026) untuk memastikan perawatan orangutan...
BGN Sambut Rekomendasi Menteri HAM Perkuat Pemulihan Penerima MBG
BGN menyambut rekomendasi Menteri HAM untuk memperkuat mekanisme pemulihan bagi penerima Program Makan Bergi...