Film Kartini Versi PBB Dekatkan Emansipasi ke Generasi Muda
Film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diputar di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026, sebagai upaya mengenalkan gagasan emansipasi R.A. Kartini kepada generasi muda. Pemutaran berlangsung sebagai bagian dari rangkaian pameran TATAH dan dilengkapi diskusi publik untuk menautkan nilai sejarah dengan tantangan masa kini.
Pemutaran dan tujuannya
Acara ini diselenggarakan untuk menghadirkan kembali pemikiran Kartini dalam format visual yang lebih mudah diterima kaum muda. Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar, menilai Kartini bukan sekadar tokoh peringatan tahunan, melainkan simbol keberanian berpikir dan memperjuangkan kesempatan setara.
Bagi masyarakat Jepara, Kartini adalah semangat untuk terus belajar dan berpikir merdeka. Semangatnya membuka kesempatan bagi semua masyarakat,
— Muhammad Ibnu Hajar, Wakil Bupati Jepara
Perbedaan versi PBB
Sutradara biopik Kartini, Hanung Bramantyo, menjelaskan bahwa versi PBB memiliki bentuk berbeda dibandingkan tayangan bioskop. Film ini mengalami penyuntingan ulang untuk menonjolkan nilai historis yang lebih autentik.
Film ini memberi rangsangan kepada penonton untuk mencari literatur dan mempelajari sejarah. Karena itu, ruang budaya perlu saling terintegrasi,
— Hanung Bramantyo, sutradara
Kolaborasi film, pameran, dan diskusi
Direktur pameran TATAH, Veronica Rompies, berharap kombinasi film, pameran, dan diskusi publik menciptakan ruang pembelajaran yang mendorong eksplorasi gagasan Kartini. Ia menekankan pentingnya menerjemahkan ide progresif Kartini ke dalam konteks kekinian.
Mulai dari penguatan literasi, pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Di mana berakar pada nilai-nilai lokal,
— Veronica Rompies, Direktur TATAH
Dampak bagi generasi muda
Penyajian visual dianggap lebih efektif untuk menghubungkan penonton muda dengan sejarah. Film membantu menjembatani kesenjangan antara narasi sejarah dan pengalaman masa kini.
Kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk menggali lebih jauh literatur dan narasi tentang Kartini. Dengan demikian, nilai emansipasi dapat diterapkan pada isu modern seperti pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Penayangan versi PBB di Museum Nasional menegaskan upaya lintas sektor membumikan pemikiran Kartini dan membuka kemungkinan program lanjutan yang mengintegrasikan seni, pendidikan, serta pelestarian budaya.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Lee Jung-eun dan Kim Moo-yul Bintangi 'The Shooter' di Netflix
Netflix produksi serial action-noir 'The Shooter' yang menampilkan Lee Jung-eun (debut aksi) dan Kim Moo-yul...
HBO Umumkan The Gilded Age Musim 4 Tayang 1 November 2026
HBO jadwalkan The Gilded Age Musim 4 tayang 1 Nov 2026; teaser menonjolkan dunia opera dan konflik kalangan...
Drakor 'The Remarried Empress' Tayang November di Disney+ & Hulu
Serial drama Korea 'The Remarried Empress' akan tayang November di Disney+ dan Hulu, dimulai 4 November deng...
Avengers Endgame: Encore Tayang Lagi di Indonesia 25 Sept 2026
Avengers Endgame: Encore tayang kembali di Indonesia mulai 25 September 2026 dengan perubahan visual dan mat...
Visinema Siapkan Film Kolosal "Perang Jawa", Syuting 2027
Visinema umumkan film kolosal "Perang Jawa" tentang Pangeran Diponegoro; syuting 2027 dan tayang 2028, denga...
Disney Adaptasi 'The Dallergut Dream Department Store' ke Layar Lebar
Disney mengadaptasi novel Korea 'The Dallergut Dream Department Store' menjadi film; Patrick Ness ditunjuk s...