Lokal

Aceh Besar Siap Kolaborasi dengan PPRI Kembangkan Budidaya Tembakau

Bagikan:
Audiensi Pemkab Aceh Besar dan PPRI membahas pengembangan budidaya tembakau di Aceh Besar

KOTA JANTHO — Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan Persatuan Pengusaha Rokok Indonesia (PPRI) untuk mendorong budidaya tembakau. Pernyataan itu disampaikan saat audiensi DPP PPRI dengan Pemkab Aceh Besar di Auditorium Malahayati Puslatbang KHAN LAN RI, Sabtu (27/6). Tujuannya jelas: meningkatkan kesejahteraan petani dan menggerakkan perekonomian daerah melalui pengembangan komoditas tembakau.

Audiensi dan peserta

Pertemuan dihadiri Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, Wakil Bupati Drs. Syukri A. Jalil, Ketua Umum DPP PPRI Gus Muhammad Afwan Zaini, Sekjen PPRI Dedi Darmadi, Ketua PPRI Aceh Said Mukhtar, serta perwakilan PT Bawang Mas Grup dari Madura.

Tujuan PPRI di Aceh

Menurut Ketua PPRI Aceh Said Mukhtar, organisasi yang baru berdiri sekitar satu tahun ini berupaya menekan peredaran rokok ilegal sekaligus mengembangkan industri tembakau untuk meningkatkan ekonomi lokal. Ia menilai Aceh memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil tembakau, dan beberapa produk anggota PPRI sudah dipasarkan di berbagai wilayah Aceh.

"Kami berharap dapat memulai program penanaman tembakau di Aceh, khususnya di Aceh Besar, sehingga dapat membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat," kata Said Mukhtar.

Tiga faktor kunci menurut PPRI

Ketua Umum DPP PPRI Gus Muhammad Afwan Zaini menjabarkan tiga faktor utama untuk keberhasilan pengembangan tembakau di Aceh. Ketiga faktor itu adalah ketersediaan lahan memadai, pendampingan guna meningkatkan kesejahteraan petani, serta kepastian pasar agar hasil panen bernilai ekonomi jangka panjang.

"Kami ingin petani memperoleh manfaat nyata. Karena itu, pengembangan tembakau harus ditopang oleh lahan, kemampuan petani, dan jaminan pasar," ujar Gus Muhammad Afwan Zaini.

Dukungan pemerintah daerah

Bupati H. Muharram Idris menyambut baik niat kerja sama dan menyatakan Pemkab terbuka terhadap investasi yang dapat menaikkan kesejahteraan masyarakat. Ia menegaskan fokus pemerintah pada pengembangan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan UMKM sebagai penopang ekonomi daerah.

"Kami ingin berkolaborasi dengan semua pihak. Kami ingin Aceh Besar maju melalui sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan UMKM. Kami tidak bicara industri besar, tetapi bagaimana ekonomi masyarakat bisa tumbuh," kata Muharram.

Lahan, tantangan teknis, dan kebutuhan modal

Syech Muharram memaparkan kondisi wilayah Aceh Besar seluas sekitar 3.000 kilometer persegi, mayoritas adalah kawasan perkebunan dan pertanian yang potensial untuk pengembangan komoditas termasuk tembakau. Pemerintah mencatat ada sekitar 22 ribu hektare lahan sawah, dan sekitar 55 persen di antaranya memiliki jaringan irigasi; sisanya masih bergantung pada curah hujan.

Namun tantangan utama bukan ketersediaan lahan, melainkan keterbatasan pengetahuan teknis petani dan akses permodalan. Bupati meminta pendampingan teknis dan kepastian pasar agar petani tidak lagi dirugikan oleh anjloknya harga saat panen.

Peran PT Bawang Mas Grup

Dalam forum itu, PT Bawang Mas Grup memaparkan pengalaman dan teknologi budidaya tembakau berkualitas, dari pembibitan hingga teknik penanaman yang tepat. Perusahaan asal Pamekasan, Madura, itu dipimpin oleh H. Khairul Umam, yang dikenal luas sebagai pengusaha pertembakauan besar.

Penutup

Pemkab Aceh Besar berharap kerja sama dengan PPRI menjadi momentum lahirnya komoditas unggulan baru yang dapat mensejahterakan petani. Pemerintah menilai sektor pertanian, termasuk tembakau, dapat menjadi penopang ekonomi yang berkelanjutan ketika didukung lahan memadai, pendampingan teknis, dan kepastian pasar.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait