Hiburan

Fadli Zon: Teater Penting Angkat Isu Sosial dan Kemanusiaan

Bagikan:

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan pada Minggu, 27 September 2026, bahwa teater bukan sekadar tontonan, melainkan alat penting untuk mengangkat isu sosial dan kemanusiaan. Pernyataan itu disampaikan saat menanggapi pementasan monolog pemberdayaan dan kasus perdagangan orang yang digelar dalam festival teater.

Dukungan Kemenbud untuk ekosistem seni

Fadli Zon menjelaskan Kementerian Kebudayaan mendorong pembangunan ekosistem seni di Indonesia. Dukungan diarahkan pada lima sektor utama: film, musik, sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan, termasuk teater.

Menurutnya, penguatan sektor-sektor itu penting agar pesan sosial melalui seni dapat menjangkau lebih luas. Seni pertunjukan, khususnya, dinilai efektif menyentuh kesadaran publik karena mengemas pesan lewat cerita dan pengalaman manusia.

Monolog "Kalau Bukan Aku" angkat persoalan perdagangan orang

Fadli Zon memberi apresiasi pada monolog berjudul Kalau Bukan Aku yang dibawakan oleh aktris Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Pementasan itu mengangkat persoalan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan dampaknya terhadap keluarga korban.

"Ditampilkan dalam bentuk teater, jadi pesan yang disampaikan melalui monoplay itu bisa menggugah kesadaran orang. Bahwa di Indonesia ini masih banyak terjadi human trafficking ke luar negeri,"

Dia menekankan bahwa perdagangan orang terjadi di berbagai daerah, baik desa maupun kota. Banyak korban bahkan tidak lagi diketahui keberadaannya, sehingga persoalan ini memerlukan perhatian serius dari publik dan pemerintah.

Fokus pada keluarga korban

Monolog Kalau Bukan Aku tampil dalam MonoPlay Festival 2026. Festival itu berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada 23–25 September 2026 dengan tema "Lakon@cting" yang mengeksplorasi teks, tubuh, suara, imajinasi, dan kehadiran aktor.

Dalam pementasan, Rahayu—dikenal juga sebagai Sara—membawa sudut pandang keluarga korban. Ia menyoroti ketidakpastian hidup yang harus dijalani keluarga setelah anggota keluarganya hilang tanpa kabar.

"Saya menjadi aktivis anti-perdagangan orang, mengetahui bahwa banyak suara mereka tidak didengar. Tahunya itu hanya dari berita yang sudah disaring dan itu memang hanya soal kasusnya,"

Gagasan monolog ini lahir dari pengalaman Rahayu sebagai aktivis anti-perdagangan orang sejak 2009. Ia mengatakan perhatian publik sering terfokus pada kasus individu, bukan pada penderitaan keluarga yang ditinggalkan.

Implikasi dan langkah ke depan

Pementasan seperti ini membuka ruang diskusi publik dan mendorong empati terhadap korban serta keluarga mereka. Penggunaan teater sebagai medium edukasi dinilai mempercepat penerimaan pesan dan menumbuhkan kesadaran kolektif.

Ke depan, dukungan kebijakan dan program yang menguatkan seni pertunjukan diharapkan terus diperluas. Hal ini untuk memastikan karya-karya yang mengangkat isu sosial mendapat ruang, pembiayaan, serta penyebaran yang lebih baik.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait