Ekonomi

Akhir Pekan: Rupiah Menguat ke Rp17.694 per Dolar AS

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah menguat terhadap dolar AS pada akhir pekan

Rupiah ditutup menguatRp17.694 per dolar AS, naik 0,30 persen atau 54 poin. Penguatan didorong pelemahan dolar AS akibat aksi jual aset berdenominasi dolar dan kebijakan buyback surat berharga negara oleh pemerintah AS.

Penutupan pasar dan besaran penguatan

Data pasar menunjukkan rupiah menguat menjelang akhir pekan. Nilai tukar ditutup pada Rp17.694 per dolar AS, mencerminkan apresiasi 0,30 persen dari posisi sebelumnya.

Faktor eksternal

Sentimen global menjadi pemicu utama. Aksi jual aset berdenominasi dolar muncul setelah pemerintahan AS mengumumkan rencana melipatgandakan pembelian kembali surat berharga negara berjangka panjang, senilai sekitar USD4 miliar per operasi di kuartal mendatang.

Departemen Keuangan AS pekan ini mengumumkan akan melipatgandakan pembelian kembali surat berharga negara. Khususnya yang berjangka waktu lebih panjang, nilainya mencapai USD4 miliar per operasi selama kuartal mendatang,

— Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang

Kebijakan buyback tersebut menekan imbal hasil jangka panjang. Penurunan imbal hasil menekan permintaan terhadap dolar, sehingga mata uang AS melemah. Selain itu, klaim tunjangan pengangguran yang tercatat menurun menandakan pasar tenaga kerja relatif stabil, sehingga pelaku pasar menilai risiko suku bunga jangka panjang berubah.

Sentimen domestik

Di dalam negeri, rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) oleh Bank Indonesia memberi dampak tambahan pada pergerakan rupiah. NPI menunjukkan transaksi berjalan mengalami defisit USD12,5 miliar pada kuartal II 2026, setara 3,3 persen PDB.

Defisit ini lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar USD3,6 miliar atau sekitar 1 persen dari PDB. Bank Indonesia menyebut beberapa faktor penyebab defisit bersifat sementara.

Kinerja kredit dan kondisi perbankan

Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 tercatat 13,58 persen secara tahunan, meningkat dari 12,67 persen pada Juni. Hal ini menunjukkan permintaan kredit tetap solid meski ketidakpastian global mempengaruhi aktivitas usaha.

Pertumbuhan kredit bulan Juli tetap solid meskipun dunia usaha mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian global,

— Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang

Indikator perbankan lain juga kondusif: rasio kecukupan modal atau CAR sekitar 23,70 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) bruto terjaga rendah di kisaran 2,09 persen. Bank Indonesia juga mempertahankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif.

Prospek ke depan

Ke depan, nilai tukar rupiah akan tetap dipengaruhi dinamika internasional, termasuk kebijakan fiskal dan moneter AS serta perkembangan geopolitik. Di sisi domestik, perbaikan neraca transaksi berjalan dan stabilitas perbankan menjadi penopang utama untuk menahan fluktuasi nilai tukar.

Ringkasan: Rupiah menguat ke Rp17.694 per dolar pada 21 Agustus 2026 karena pelemahan dolar AS dipicu kebijakan buyback surat berharga negara AS; faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan dan kinerja kredit juga memengaruhi sentimen pasar.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait