Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Tetap Sulit di Bawah Rp18.000
Rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, ke posisi Rp18.071 per dolar AS atau turun 0,02% pada pukul 09.00 WIB menurut data Bloomberg. Pelemahan ini membuat mata uang domestik masih kesulitan menembus level di bawah Rp18.000 meski fundamental ekonomi dinilai kuat.
Pergerakan pasar pagi ini
Pada penutupan sehari sebelumnya, rupiah sempat menguat 0,13% ke posisi Rp18.068 per dolar AS. Namun pada pembukaan hari ini tekanan kembali muncul dan membuat kurs bergerak tipis melemah. Indeks dolar AS tercatat relatif stabil di kisaran 100,9, sehingga mendorong preferensi investor terhadap dolar.
Faktor penyebab
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa meski fundamental ekonomi dalam negeri kuat, ada faktor persepsi dari luar yang mempengaruhi. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyoroti aspek kepercayaan investor internasional.
"Fundamental kita sebenarnya ok, tapi memang ada persepsi trust dan confidence dari luar,"
Tim analis Mirae Asset Sekuritas juga menilai rupiah masih sulit menembus level psikologis di bawah Rp18.000. Analis pasar uang mereka, Jessica Tasijawa, menyatakan rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan.
"Ini membuat rupiah masih menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan,"
Data depresiasi dan arus modal
Menurut Mirae Asset, sepanjang Juli 2026 rupiah terdepresiasi sekitar 0,8%, sementara sejak Januari 2026 depresiasi mencapai 8,2%. Struktur imbal hasil obligasi juga memengaruhi aliran modal asing.
Imbal hasil dan SRBI
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke sekitar 7,24%. Di sisi lain, hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menunjukkan BI menyerap sekitar Rp15 triliun pada lelang 15 Juli 2026, dengan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan tetap di 7,7%. Kondisi ini menunjukkan instrumen jangka pendek menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding tenor panjang.
Jessica menilai struktur imbal hasil seperti ini mendorong arus dana asing lebih condong ke instrumen jangka pendek, sehingga membatasi potensi apresiasi rupiah.
Impak kebijakan BI dan prospek ke depan
Fenomena perbedaan imbal hasil jangka pendek dan panjang juga merupakan konsekuensi intervensi BI yang fokus menahan pelemahan rupiah. Namun intervensi tersebut belum cukup membangun penguatan yang berkelanjutan.
"Ini memperkuat pandangan kami bahwa BI kemungkinan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat," ujar Jessica. Dia menambahkan sentimen pasar membaik setelah penegasan peringkat BBB/Stable oleh S&P.
Secara keseluruhan, rupiah masih menghadapi tekanan eksternal dan sentimen investor sementara struktur imbal hasil domestik mendorong preferensi pada instrumen jangka pendek. Kepala pasar dan pelaku pasar akan terus memantau pergerakan indeks dolar AS, keputusan kebijakan BI, serta data ekonomi global untuk melihat peluang rupiah kembali menguat secara berkelanjutan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...