Diana Sasa: MPLS Harus Edukatif dan Bebas Perundungan
MAGETAN — Anggota DPRD Jawa Timur Diana A.V. Sasa meminta pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung edukatif, aman, dan bebas dari praktik perundungan serta perpeloncoan. Ia menekankan bahwa MPLS harus menjadi pintu masuk yang positif bagi peserta didik baru untuk mengenal budaya sekolah dan membangun karakter.
MPLS sebagai momentum pembentukan karakter
Menurut Diana Sasa, MPLS bukan sekadar serangkaian acara tahunan. Kegiatan ini harus berorientasi pada pembinaan, bukan tekanan fisik maupun psikologis terhadap siswa baru. Ia mengingatkan bahwa pengalaman awal di sekolah menentukan sikap dan semangat belajar siswa untuk jangka panjang.
"MPLS harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik. Jangan sampai ada praktik perundungan, perpeloncoan, ataupun kegiatan yang merendahkan martabat siswa. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak," ujar Diana Sasa.
Tanggung jawab sekolah dan peran orang tua
Diana menegaskan bahwa tanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang menghargai setiap peserta didik ada pada seluruh elemen sekolah. Kepala sekolah, guru, panitia, dan kakak kelas harus bekerja sama mencegah tindakan yang melukai martabat siswa.
- Kepala sekolah: menetapkan kebijakan anti-perundungan dan pengawasan kegiatan.
- Guru dan panitia: mengarahkan kegiatan yang edukatif dan mengedepankan keselamatan.
- Kakak kelas: menjadi teladan dan pelindung bagi siswa baru.
- Orang tua: mengawal pelaksanaan MPLS melalui komunikasi dengan sekolah.
Ia juga mengajak orang tua membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Sinergi keluarga, sekolah, dan pemerintah dinilai kunci mewujudkan lingkungan belajar sehat dan aman.
Nilai pendidikan bagi bangsa
Diana mengingatkan bahwa kualitas pendidikan menentukan kemajuan bangsa. Ia mengutip pemikiran Soekarno yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan.
"Bung Karno pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah cikal bakal keberhasilan sebuah bangsa. Karena itu, setiap anak harus memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan," katanya.
Dia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di kelas saja. Pendidikan harus tercermin dari teladan dan suasana sekolah yang menghargai perbedaan, disiplin, gotong royong, dan toleransi sejak hari pertama.
Harapan dan implikasi
Diana berharap pelaksanaan MPLS di seluruh sekolah Jawa Timur menjadi awal yang baik bagi pembentukan generasi cerdas dan berakhlak. Komitmen bersama pemangku kepentingan perlu ditingkatkan agar lingkungan pendidikan benar-benar bebas dari praktik perundungan dan perpeloncoan.
Dengan suasana sekolah yang aman dan menghormati martabat anak, peserta didik akan lebih percaya diri untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
PDIP Soroti Perubahan APBD Madiun 2026: PAD Naik, Bansos Turun
Fraksi PDIP DPRD Madiun minta penjelasan terkait kenaikan PAD, penurunan bansos, dan lonjakan BTT dalam Rape...
DPRD Soroti Anggaran Rp310,3 Juta untuk Aplikasi LAHBAKO di Jember
DPRD Jember soroti anggaran Rp310,3 juta untuk aplikasi LAHBAKO karena layanan kependudukan masih lamban dan...
Agung Priyanto Desak Evaluasi Desil Usai 903 KK Ajukan Pembaruan
Agung Priyanto minta evaluasi penggunaan desil setelah 903 KK di Ponorogo ajukan pemutakhiran data Agustus 2...
Banyuwangi Raih Dua Penghargaan Terbaik KTR Jatim 2026
Banyuwangi meraih dua penghargaan Terbaik 1 Implementasi Kawasan Tanpa Rokok Jatim 2026 untuk Marina Boom da...
Siraman Gong Kyai Pradah di Lodoyo: Tradisi dan Peluang UMKM
Ribuan warga menyaksikan Siraman Gong Kyai Pradah di Lodoyo, Blitar; tradisi dilestarikan dan didorong menja...
Evi Dwitasari Serap Aspirasi Kradenan dan Tekankan Prioritas Infrastruktur
Evi Dwitasari serap aspirasi warga Kradenan (27/8/2026) dan tegaskan prioritas infrastruktur karena pemotong...