Aturan Jeda Minum Piala Dunia Dinilai Ganggu Momentum Pertandingan
FIFA menerapkan hydration breaks di Piala Dunia 2026 untuk mengatasi suhu panas di AS, Kanada, dan Meksiko, namun aturan ini menuai kritik karena dianggap mengganggu ritme pertandingan. Kebijakan itu diterapkan sejak fase grup, termasuk pada laga Curacao vs Jerman di Houston yang berujung kontroversi.
Aturan baru dan tujuannya
FIFA menetapkan jeda minum pada menit ke-22 setiap babak. Wasit menghentikan pertandingan dan memberi waktu sekitar tiga menit bagi pemain untuk hidrasi. Tujuannya mengurangi risiko kesehatan saat suhu di beberapa stadion dapat melampaui 32 derajat Celsius.
Kontroversi: momentum terhenti
Aturan itu langsung menjadi sorotan setelah Curacao sempat menyamakan kedudukan 1-1 melawan Jerman di Houston. Hanya sekitar 30 detik setelah gol penyama, pertandingan dihentikan untuk jeda minum. Saat laga dilanjutkan, Curacao kehilangan momentum dan akhirnya kalah 1-7.
Insiden serupa juga terlihat saat Maroko menghadapi Brasil. Maroko tampil dominan dan unggul sebelum jeda, tetapi kebobolan dalam kurang dari 10 menit setelah pertandingan kembali berjalan.
"Saya sebenarnya merasa kasihan kepada mereka. Mereka mencetak gol dan mungkin sekitar 30 detik setelah itu pertandingan berhenti, jadi itu membunuh momentum mereka,"
Komentar di atas disampaikan oleh mantan penyerang Inggris, Alan Shearer, yang mengaku prihatin dengan dampak jeda terhadap ritme tim yang sedang on-fire.
Data awal turnamen
Statistik awal menunjukkan delapan dari 16 pertandingan pertama menghasilkan gol dalam kurun 10 menit setelah pertandingan dilanjutkan pasca jeda minum. Fakta ini memunculkan dugaan bahwa jeda menjadi momen penting bagi pelatih untuk memberikan instruksi tambahan yang berpengaruh pada jalannya laga.
Pelatih Belanda, Ronald Koeman, mengakui jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki permainan. Menurutnya, waktu singkat itu memungkinkan staf menyampaikan evaluasi dan arahan taktis yang langsung berpengaruh setelah restart.
Pelaksanaan seragam, tanpa pengecualian
Sesuai regulasi yang diumumkan, jeda dilaksanakan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca, lokasi pertandingan, atau jenis stadion. Penerapan aturan yang sama di semua venue menimbulkan perdebatan apakah kebijakan itu fleksibel dan adil bagi semua tim.
Ke depan, perdebatan kemungkinan besar akan berkisar pada keseimbangan antara keselamatan pemain dan kelangsungan ritme pertandingan. Pengamat dan klub mungkin menuntut peninjauan lebih detail terhadap kapan dan bagaimana jeda tersebut sebaiknya diterapkan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Cosmo JNE Jakarta Bungkam Nanzaby FC Kepri 3-2 di PFL 2026
Cosmo JNE Jakarta menang 3-2 atas Nanzaby FC Kepri di GOR POPKI Cibubur, Sabtu 3 Oktober 2026, setelah gol c...
Djokovic Taklukkan Zverev, Catat 32 Kemenangan Beruntun di Beijing
Novak Djokovic menundukkan Alexander Zverev 4-6, 6-4, 6-4 di Beijing, mencatat rekor 32 kemenangan beruntun...
Asian Games 2026 Ditutup, Dubes RI Apresiasi Kontingen Indonesia
Dubes RI Nurmala Kartini mengapresiasi perjuangan kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang...
Meydiana Laviola Bawa Merah Putih dengan Kebaya Prada Bali
Meydiana Laviola tampil sebagai pembawa bendera dengan kebaya Prada Bali karya Ghea Panggabean pada penutupa...
Meydiana Reinnamah Jadi Flag Bearer dengan Prada Bali
Meydiana Reinnamah jadi pembawa bendera Indonesia di Closing Asian Games 2026, mengenakan kebaya Prada Bali...
Alcaraz Melaju ke Semifinal Japan Open Usai Shapovalov Mundur
Carlos Alcaraz melaju ke semifinal Japan Open 2026 setelah Denis Shapovalov mundur karena cedera saat skor 7...