Hydration Break di Piala Dunia 2026: Sejarah, Aturan, dan Alasan
FIFA mengumumkan bahwa semua pertandingan Piala Dunia 2026 akan menerapkan hydration break selama tiga menit pada menit ke-22 dan ke-65 untuk melindungi pemain dari risiko akibat cuaca panas. Kebijakan ini diberlakukan menyusul evaluasi turnamen sebelumnya dan pengalaman pada Piala Dunia 2014 di Brasil, dengan tujuan menjaga keselamatan dan performa pemain.
Aturan Jeda Minum di Piala Dunia 2026
Setiap laga akan dihentikan sementara dua kali, tepat di pertengahan setiap babak. Durasi jeda ditetapkan tiga menit untuk memberi waktu pemulihan, minum, dan pendinginan singkat.
Penetapan waktu jeda pada menit ke-22 dan ke-65 bertujuan konsistensi pelaksanaan di seluruh pertandingan. Langkah ini juga memudahkan wasit dan tim medis melakukan koordinasi selama turnamen.
Sejarah: Dari Brasil 2014 ke Pengumuman 2026
Jeda minum bukan kebijakan baru. Pada Piala Dunia 2014 di Brasil, jeda semacam ini mulai mendapat perhatian karena kondisi cuaca ekstrem. Pertandingan antara Amerika Serikat dan Portugal di Manaus menjadi contoh penerapan awal secara informal untuk membantu pemain menghadapi panas dan kelembapan tinggi.
Karena dianggap efektif, FIFA kemudian menerapkan jeda tersebut secara resmi pada laga-laga berikutnya, termasuk pertemuan antara Belanda dan Meksiko pada babak 16 besar. Saat itu, suhu di beberapa lokasi dilaporkan mencapai 39 C, sehingga risiko gangguan kesehatan meningkat.
Alasan Medis dan Metode Pengukuran
Alasan utama penerapan jeda minum adalah keselamatan pemain. Sebelum Piala Dunia 2014, pengadilan ketenagakerjaan Brasil mengeluarkan ketentuan yang mewajibkan jeda saat indeks suhu tertentu tercapai.
FIFA menggunakan pengukuran Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) yang mempertimbangkan suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan paparan sinar matahari. Metode ini dinilai lebih akurat dibandingkan termometer biasa dalam menilai risiko heat stress dan heatstroke.
Dampak pada Pertandingan dan Pemain
Penerapan jeda diharapkan mengurangi risiko heatstroke dan gangguan kesehatan lain yang dapat menurunkan performa pemain. Dengan jeda singkat, pemain mendapat kesempatan minum, mendinginkan tubuh, dan menerima perawatan ringan bila perlu.
Selain aspek kesehatan, langkah ini juga menjaga kualitas tontonan. Penonton akan menyaksikan pertandingan yang tetap kompetitif tanpa terganggu insiden karena kondisi cuaca ekstrem.
Keselamatan pemain menjadi prioritas utama dalam keputusan ini. FIFA menilai bahwa langkah proaktif seperti jeda minum diperlukan untuk menghadapi tantangan iklim yang semakin tak terduga.
Panduan ini juga memberi sinyal kepada penyelenggara lokal agar menyiapkan fasilitas medis dan pendinginan yang memadai. Ke depan, pelaksanaan akan terus dievaluasi berdasarkan data lapangan dan kondisi iklim pada setiap lokasi pertandingan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Barcelona Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Raphinha, Espart, Bernal
Barcelona memulai perpanjangan kontrak jangka panjang untuk Raphinha, Xavi Espart, dan Marc Bernal sebagai b...
Cosmo JNE Jakarta Bungkam Nanzaby FC Kepri 3-2 di PFL 2026
Cosmo JNE Jakarta menang 3-2 atas Nanzaby FC Kepri di GOR POPKI Cibubur, Sabtu 3 Oktober 2026, setelah gol c...
Djokovic Taklukkan Zverev, Catat 32 Kemenangan Beruntun di Beijing
Novak Djokovic menundukkan Alexander Zverev 4-6, 6-4, 6-4 di Beijing, mencatat rekor 32 kemenangan beruntun...
Asian Games 2026 Ditutup, Dubes RI Apresiasi Kontingen Indonesia
Dubes RI Nurmala Kartini mengapresiasi perjuangan kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang...
Meydiana Laviola Bawa Merah Putih dengan Kebaya Prada Bali
Meydiana Laviola tampil sebagai pembawa bendera dengan kebaya Prada Bali karya Ghea Panggabean pada penutupa...
Meydiana Reinnamah Jadi Flag Bearer dengan Prada Bali
Meydiana Reinnamah jadi pembawa bendera Indonesia di Closing Asian Games 2026, mengenakan kebaya Prada Bali...