BMKG: Hujan Lebat Ancam Jabodetabek, Warga Diminta Waspada
BMKG mengimbau masyarakat Jabodetabek untuk meningkatkan kewaspadaan pada Kamis, 30 Juli 2026. Badan ini memprediksi potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang di beberapa wilayah. Ancaman cuaca ekstrem ini berisiko memicu genangan, luapan sungai, dan tanah longsor.
Peringatan cuaca hari ini
BMKG menyatakan potensi cuaca ekstrem berlangsung sepanjang hari di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Peringatan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan aktivitas dan bencana hidrometeorologi.
Wilayah yang diperkirakan terdampak
Secara rinci, BMKG mencatat beberapa daerah dengan peluang hujan sedang hingga lebat dan potensi angin kencang. Masyarakat di daerah-daerah berikut diminta meningkatkan kewaspadaan:
- Potensi hujan sedang hingga lebat:
- Kota Tangerang Selatan
- Potensi angin kencang:
- Kota Tangerang Selatan
- Kabupaten Tangerang
Risiko dan himbauan
BMKG mengingatkan cuaca seperti ini dapat memicu beragam bencana hidrometeorologi. Dampak yang perlu diwaspadai mencakup genangan, luapan sungai, dan longsor yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Potensi dampak bencana hidrometeorologi. Berupa genangan, luapan air sungai, dan longsor yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat," kata BMKG dalam keterangan resminya, di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Untuk langkah kesiapsiagaan, BMKG menekankan pentingnya pemantauan informasi terkini. Masyarakat dianjurkan mengikuti prakiraan cuaca melalui situs resmi dan aplikasi.
Informasi resmi dapat diakses melalui situs BMKG dan aplikasi InfoBMKG untuk mendapatkan peringatan dini serta update cuaca secara real-time.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jakarta
BMKG sebelumnya memaparkan strategi untuk mengurangi dampak kemarau panjang, termasuk kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan. Namun, langkah ini tidak bersifat rutin dan hanya dilakukan bila syarat terpenuhi.
"Kalau di Jakarta situasional, BMKG bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta itu secara situasional melihat situasi yang ada di Jakarta. Jadi ketika memang kondisinya sudah hari tanpa hujan cukup panjang, maka dilakukan operasi modifikasi cuaca," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Faisal menambahkan bahwa keberadaan awan hujan menjadi syarat utama untuk menjalankan teknologi OMC. Tanpa awan yang memadai, operasi modifikasi tidak mungkin dilakukan.
"Dengan catatan ketika awan masih ada ya. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi, sehingga nantinya bisa membuat Jakarta lebih adem," kata Faisal.
BMKG menegaskan kesiapsiagaan sebagai langkah paling penting menghadapi cuaca ekstrem. Warga di wilayah terdampak diminta memantau informasi resmi dan menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi banjir, genangan, dan longsor.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Basarnas Ungkap Risiko Penyelaman KM Virgo: Gelap & Kontaminasi
Basarnas sebut penyelaman di kecelakaan KM Virgo berisiko tinggi: visibilitas rendah, debris, kontaminasi, d...
Kemenperin Gandeng Mahasiswa Kembangkan IKM Fesyen-Kriya
Kemenperin menggandeng mahasiswa melalui program Design Canvas & Design Maker 2026 untuk membantu IKM fesyen...
BGN Bongkar Potongan Rp1.500–Rp2.000 per Porsi MBG
BGN temukan potongan Rp1.500–Rp2.000 per porsi MBG yang menurunkan kualitas makanan; BGN ancam putus kerja s...
KM Virgo Ditarget Diangkat Oktober 2026
PT Virgo Karya menargetkan pengangkatan KM Virgo di Laut Jawa pada Oktober 2026 setelah komunikasi positif d...
Gempa M5,9 Sumba Barat Daya Tak Berpotensi Tsunami
BMKG: gempa M5,9 di Sumba Barat Daya (4 Okt 2026) tak berpotensi tsunami; warga diminta waspada terhadap ban...
Basarnas Hentikan Penyelaman KM Virgo Transport 8
Basarnas menghentikan penyelaman KM Virgo Transport 8 pada hari ke-21 karena kondisi jasad dan struktur kapa...