Kemendag: Kenaikan Bea Masuk Saudi Buka Peluang bagi Produk Indonesia
Kementerian Perdagangan menyatakan meski Arab Saudi menaikkan tarif bea masuk impor sejak 26 Juni 2026, produk Indonesia masih berpeluang menembus pasar jika pelaku usaha meningkatkan kualitas, efisiensi, dan kepatuhan standar.
Kenaikan tarif dan komoditas yang terdampak
Pemerintah Saudi menetapkan perubahan tarif bea masuk terhadap 51 komoditas mulai 26 Juni 2026. Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi serta mendorong perkembangan produk pertanian lokal.
- Ternak hidup dan daging
- Ikan dan udang
- Produk susu dan telur
- Buah-buahan, bunga, serta produk olahan pertanian
Perubahan tarif tersebut disebut juga selaras dengan komitmen Arab Saudi sebagai anggota World Trade Organization (WTO).
Peluang bagi eksportir Indonesia
Atase Perdagangan RI di Riyadh, Zulvri Yenni, menilai kenaikan tarif bukan semata hambatan, melainkan peluang untuk mendorong ekspor yang lebih bernilai tambah. Ia mengimbau eksportir untuk semakin giat memanfaatkan pasar Saudi.
Perubahan tarif oleh Pemerintah Arab Saudi perlu disikapi sebagai upaya membuka peluang baru
Menurut Zulvri, produk Indonesia masih dapat bersaing selama pelaku usaha menjaga kualitas dan efisiensi biaya. Fokus pada pengembangan produk bernilai tambah dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan menjadi kunci penetrasi pasar.
Area kerja sama yang berpotensi
Zulvri menyoroti penguatan sektor pertanian dan akuakultur Saudi sebagai peluang untuk kerja sama. Kebutuhan terhadap teknologi budidaya, rantai dingin, pakan, dan benih bisa membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia.
Koordinasi pemerintah dan pemantauan kebijakan
Kemendag menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Riyadh untuk memantau dampak perubahan tarif. Tujuannya agar informasi perkembangan kebijakan dapat diidentifikasi dan dikomunikasikan secara berkala ke pelaku usaha.
Kami optimistis produk Indonesia tetap mampu untuk bersaing di pasar Arab Saudi selama produk itu berkualitas
Untuk itu, Kemendag mendorong pelaku usaha memperhatikan beberapa hal:
- Menjaga konsistensi kualitas produk
- Meningkatkan efisiensi biaya produksi dan logistik
- Memenuhi standar keamanan pangan dan regulasi impor Saudi
- Mengembangkan produk bernilai tambah
Dengan strategi yang tepat, kenaikan tarif dapat menjadi momentum bagi produk pangan dan perikanan Indonesia untuk masuk dan memperkuat posisi di pasar Arab Saudi.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...