Piala Dunia 2026 Diproyeksi Dongkrak Ekonomi Indonesia hingga Rp4 Triliun
Piala Dunia 2026 diperkirakan menggerakkan perputaran ekonomi domestik hingga Rp3–4 triliun. Prediksi itu disampaikan Rosyid Jazuli, Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI), pada 27 Juni 2026. Pemicu utama adalah lonjakan konsumsi masyarakat selama turnamen, mulai dari langganan siaran hingga nonton bareng atau nobar.
Perkiraan nilai ekonomi dan pemicunya
Rosyid menjelaskan bahwa angka Rp3–4 triliun merupakan perkiraan berdasarkan pola konsumsi saat turnamen olahraga besar. Menurut dia, peningkatan belanja rumah tangga akan terasa di berbagai sektor riil.
"Soal nilai ekonomi di Indonesia dari studi dan perkiraan, saya prediksi berkisar Rp3 triliun sampai Rp4 triliun."
Jenis pengeluaran yang berkontribusi meliputi langganan siaran, kegiatan nobar, hingga belanja pendukung lain yang bersifat konsumtif.
- Langganan siaran/layanan streaming
- Biaya nobar seperti sewa tempat dan layar
- Pembelian makanan dan minuman
- Transportasi dan akomodasi
- Pakaian atau jersey tim
Antusiasme publik dan risiko eksternal
Rosyid menilai antusiasme publik dapat menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Namun, ia juga mengingatkan adanya faktor eksternal yang bisa membatasi dampak tersebut.
"Piala dunia kali ini kemungkinan relatif lebih sepi ketimbang sebelumnya. Ada juga isu geopolitik yang membuat perhelatan jadi terganggu."
Dengan demikian, realisasi angka proyeksi sangat bergantung pada kondisi global dan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan terkait turnamen.
Peluang bagi UMKM dan penyiaran nobar
Momentum Piala Dunia 2026 juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kegiatan nobar diperkirakan meningkatkan transaksi usaha kecil lokal, terutama yang bergerak di makanan, minuman, dan suvenir.
Salah satu perusahaan penyiaran dan mitra lokal menyatakan dukungan untuk menggelar program nobar bersama masyarakat, termasuk menyediakan dukungan gratis di beberapa daerah. Direktur Utama Folago Global Nusantara Tbk, Subioto Jingga, memastikan kesiapan dukungan tersebut.
"Di Jawa, Maluku, hingga Papua, kami siap memberikan dukungan gratis untuk kegiatan nobar bersama masyarakat,"
Implikasi dan prospek ke depan
Secara makro, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi musiman yang berdampak dari industri besar hingga ekonomi akar rumput. Jika pelaksanaan dan partisipasi publik berjalan lancar, manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Namun, realisasi manfaat ini masih bergantung pada kondisi eksternal, kebijakan penyelenggara, dan respons pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Celtic Menang 3-0 atas LASK di Play-off Liga Champions
Celtic menang 3-0 atas LASK di leg pertama play-off Liga Champions di Celtic Park lewat gol Nygren dan dua g...
Ana/Trias Tundukkan Wakil Turki, Lolos 16 Besar BWF 2026
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias melaju ke 16 besar BWF 2026 setelah mengalahkan wakil Turki 21-12, 21-...
Urin Positif Benzoylecgonine, Nick Kyrgios Dilarang Bertanding
Nick Kyrgios dilarang setelah sampel urin di Mallorca Open positif benzoylecgonine, metabolit kokain. Ia men...
Bayern Bungkam soal Musiala setelah Dua Kali Jatuh di Uji Coba
Bayern belum angkat suara soal kondisi Jamal Musiala setelah dua kali terjatuh di laga uji coba; laporan men...
Real Madrid Perkenalkan Mourinho dalam Acara Tertutup
Real Madrid memperkenalkan Jose Mourinho sebagai pelatih baru dalam acara tertutup; kontrak tiga musim hingg...
Jonatan Christie Melaju ke 16 Besar Kejuaraan Dunia BWF 2026
Jonatan Christie lolos ke 16 besar Kejuaraan Dunia BWF 2026 setelah menang 19-21, 21-19, 21-11 atas Jason Te...