MADANI Rilis 'Suara Tanah Kita' untuk Lindungi Alam
Yayasan Madani Berkelanjutan (MADANI) meluncurkan karya musik kolaboratif 'Suara Tanah Kita' pada Jumat malam, 31 Juli 2026 di Dialogue Artspace, Jakarta Selatan. Lagu ini digarap untuk menyuarakan keadilan iklim dan perlindungan lingkungan melalui kolaborasi musisi dan penutur budaya Dayak Kayan.
Lahir dari pengalaman masyarakat adat
Proyek ini melibatkan musisi Asteriska, penutur sastra lisan Dayak Kayan Ine Martha Haran, dan budayawan Kapuas Hulu Dominikus Uyub. Menurut pihak MADANI, ide lagu muncul setelah diskusi dengan produser Adai yang dekat dengan komunitas Dayak Kayan di Kalimantan Utara.
Perwakilan MADANI mengatakan diskusi itu memunculkan kisah perjuangan mempertahankan tanah leluhur. Cerita tersebut kemudian menjadi inspirasi utama dalam penyusunan lirik dan pesan kuat lagu.
Dalam konferensi pers bertajuk Sehari Rasa Kapuas: Suara Tanah Kita, pihak penyelenggara menyorot tekanan eksternal yang membuat tanah adat mulai dibeli oleh pihak berkepentingan ekonomi. Meski demikian, banyak warga tetap berupaya mempertahankan lahan mereka.
Konten lagu dan pesan sosial
Lagu ini merekam dualitas pilihan komunitas adat: sebagian memilih bertahan, sebagian menjual lahan demi kebutuhan ekonomi. MADANI berharap karya ini dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya solidaritas dan pelestarian lingkungan.
"Bang Adai bercerita mengenai kondisi Kalimantan saat itu, ketika tanah mulai dibeli oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu,"
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers sebagai bagian dari narasi yang melatari lagu. Pesan utama adalah bahwa tantangan terbesar bukan hanya dari luar, melainkan juga upaya membangun kekompakan internal masyarakat adat.
Peran Telima dan nilai budaya Dayak Kayan
Penutur sastra lisan Dayak Kayan, Ine Martha Haran, menyumbang bagian penting lewat pembawaan Telima. Telima berupa doa dan ungkapan syukur yang diwariskan turun-temurun sebagai pedoman hidup masyarakat Dayak Kayan.
"Telima itu adalah tradisi lisan yang dimiliki Suku Dayak Kayan. Di dalamnya berisikan doa dan ucapan rasa syukur kepada Tuhan,"
Ine menjelaskan bahwa Telima tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Melalui integrasi Telima dalam lagu, harapannya generasi penerus terus menjaga warisan budaya dan tanah kelahiran.
Harapan dan langkah ke depan
MADANI menyatakan 'Suara Tanah Kita' bukan sekadar karya musik, melainkan alat advokasi untuk memperkuat suara masyarakat adat dan mempromosikan perlindungan lingkungan. Mereka berharap lagu ini mendorong diskusi publik dan aksi nyata dalam upaya pelestarian alam Indonesia.
Ke depan, kolaborasi serupa diharapkan terus dikembangkan untuk mengangkat isu lokal yang berkaitan dengan keadilan iklim dan hak atas tanah adat.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
No Na Rilis 'Star', Angkat Identitas Indonesia lewat Island Pop
No Na merilis 'Star' pada 18 Sep 2026, memadukan pop modern, referensi gamelan, dan nuansa tropis sebagai pe...
Film Horor Indonesia Meluncur di IHFFM 2026, Tayang di Melbourne
IHFFM 2026 diumumkan di Jakarta; festival memutar film horor bertema mitologi Indonesia di The Capitol, Melb...
Rekomendasi Film Adaptasi Gim, Termasuk Resident Evil (2026)
Tujuh rekomendasi film adaptasi gim untuk ditonton, termasuk Resident Evil yang tayang di Indonesia 16 Septe...
Produser Janji Bangun Rumah Singgah Jika Film Istimewa Capai 1 Juta
Produser film Istimewa berjanji membangun Rumah Singgah di tiap provinsi jika film mencapai satu juta penont...
Netflix Produksi Narnia: The Magician’s Nephew, Rilis Feb 2027
Netflix produksi film Narnia karya C. S. Lewis, sutradara Greta Gerwig; rilis bioskop 12 Feb 2027 dan tayang...
The Scandal Tayang di Netflix: Romansa Berbahaya di Era Joseon
The Scandal tayang di Netflix 18 Sept 2026; romansa berbahaya berlatar Joseon dengan Son Ye-jin, Ji Chang-wo...