Samuel Moring: Alam Jadi Napas Budaya Masyarakat Adat Kalimantan
Samuel Moring, Budayawan Muda Dayak Punan Hovongan, menyatakan alam menjadi sumber utama karya budaya masyarakat adat Kalimantan.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers acara Sehari Rasa Kapuas: Suara Tanah Kita di Dialogue Artspace, Jakarta Selatan, Jumat malam, 31 Juli 2026. Ia menekankan hubungan alam dan budaya diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.
Warisan leluhur: tiga unsur utama
Menurut Samuel, warisan leluhur tersusun atas tiga unsur yang saling berkaitan. Ketiga unsur menjadi landasan identitas dan pewarisan nilai kehidupan komunitas adat.
- Wilayah adat — tempat yang menyimpan nilai sakral dan larangan eksploitasi.
- Seni budaya — musik, tarian, sastra lisan dan tulis, serta seni rupa tradisional.
- Sejarah — catatan perjalanan komunitas yang terekam lewat praktik budaya.
Ia menambahkan bahwa ketiganya bekerja bersama untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat adat dengan lingkungan.
"Warisan leluhur menurut saya terdiri dari tiga unsur, yaitu wilayah adat, seni budaya, dan sejarah,"
Alam sebagai sumber inspirasi dan pengetahuan
Samuel menjelaskan proses pewarisan terjadi melalui interaksi sehari-hari dengan lingkungan. Pengetahuan tentang tanaman, sumber daya, dan ritus ritual tumbuh saat komunitas menetap dan hidup bersama alam.
Dari proses itu lahir beragam karya budaya. Contohnya, alat musik dan tarian yang merespon ritme alam, serta cerita lisan yang mengabadikan pengetahuan ekologis. Karya-karya ini menjadi bukti panjang hubungan komunitas adat dengan lingkungan sekitarnya.
Dampak perubahan lingkungan terhadap budaya
Budayawan Kapuas Hulu, Dominikus Uyub, mengingatkan bahwa perubahan lingkungan selalu berimbas pada sosial dan kebudayaan. Ia menyoroti hubungan erat antara kelestarian hutan dan kelangsungan tradisi masyarakat adat.
Dominikus memberikan contoh konkret: ketika hutan berubah oleh pembangunan dan aktivitas industri, sejumlah komunitas mulai kehilangan praktik budaya mereka.
"Perubahan lingkungan secara perlahan ikut mengubah pola hidup, pekerjaan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menjalankan tradisi budaya sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa kerusakan alam juga membawa dampak besar terhadap keberlangsungan identitas budaya masyarakat adat,"
Ia berharap upaya pelestarian lingkungan berjalan berbarengan dengan pelestarian budaya. Menurutnya, menjaga alam sama dengan menjaga sejarah, pengetahuan, dan jati diri komunitas adat untuk generasi mendatang.
Pesan kedua budayawan itu menggarisbawahi keterkaitan antara ruang hidup dan identitas budaya, serta perlunya kebijakan dan praktik pelestarian yang menghormati wilayah adat.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Yuna ITZY Absen Fan Sign Shenzhen Usai Dirawat di Rumah Sakit
Yuna ITZY absen dari fan sign Shenzhen karena dirawat inap setelah didiagnosis peradangan; agensi pastikan a...
Netflix Konfirmasi 'Outer Banks' Musim Terakhir Tayang 20 Agustus
Netflix mengumumkan Musim 5 Outer Banks sebagai musim terakhir, tayang perdana 20 Agustus dengan penutupan k...
Sony Rilis Trailer Perdana Jumanji: Open World
Sony merilis trailer perdana Jumanji: Open World pada 30 Juli 2026, menampilkan kembalinya Dwayne Johnson dk...
Netflix Rilis Teaser 'Below', Thriller Laut Siap Tayang
Netflix merilis teaser serial thriller Below, yang akan premiere di TIFF 10 September 2026 dan tayang di Net...
Lee Kwang Soo Gabung 'Nambeol', Perankan Ahli Bahan Peledak
Lee Kwang Soo resmi bergabung di film aksi sejarah 'Nambeol' sebagai Hwa Bong, ahli bahan peledak dalam misi...
'Black Fingers' Viral di TikTok: Asal-Usul Jagua dan Maknanya
Tren "black fingers" di TikTok mengadaptasi pewarna buah jagua dari suku Amazon; estetika modern yang punya...