Madani Film Festival 2026 Angkat Islam Modernis ala Asrul Sani
Madani Internasional Film Festival 2026 mengangkat gagasan Islam modernis ala sastrawan Asrul Sani sebagai pijakan. Festival menampilkan film dan program yang melihat Islam dari pengalaman keseharian masyarakat, bukan sekadar doktrin. Pengumuman program itu disampaikan pada konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.
Konsep festival dan tujuan
Kritikus film Hikmat Darmawan menjelaskan festival membangun ruang aman sejak sembilan tahun lalu untuk mempertemukan gagasan dan karya. Kini gagasan itu dirumuskan menjadi empat pilar sebagai subprogram, dengan dua payung utama penyelenggaraan skala nasional. Pendekatan ini menempatkan pengalaman sosial-budaya sebagai pusat narasi film.
Pilar "Living Islam"
Salah satu pilar inti adalah Living Islam, yang memfokuskan pada praktik beragama sehari-hari. Pendekatan ini membuka ruang bagi film dari berbagai belahan dunia, bukan hanya negara berpenduduk mayoritas Muslim.
"Pilar Living Islam melihat Islam hidup sehari-hari, bukan Islam buku, kitab, doktrin, tetapi pengalaman masyarakat dunia. Film-filmnya bisa berasal dari Eropa, Amerika, Sahel, Asia Tenggara, Selandia Baru, hingga pelosok Indonesia sendiri,"
Menurut panitia, kategori ini dipilih untuk menampilkan keragaman lokal dan bagaimana nilai keislaman hadir secara konkret dalam kehidupan masyarakat.
Menemukan gagasan lewat komunitas kecil
Festival juga mencari komunitas dan karya yang menyuarakan persoalan besar melalui praktik seni skala kecil. Salah satu contoh yang dipilih adalah karya Isah Sagu dari Papua, yang mengangkat isu kolonisasi pangan dan upaya marginalisasi sagu sebagai bahan pangan adat.
"Kami senang menemukan kawan-kawan yang kelihatannya sekarang kecil, tetapi barangkali gagasannya besar, gerakannya juga kecil. Misalnya Isah Sagu dari Papua, menggambarkan kolonisasi pangan dan menyingkirkan sagu sebagai pangan masyarakat adat lewat seni,"
Panitia menyatakan karya seperti ini menunjukkan seni bisa menjadi medium membicarakan identitas dan ketahanan pangan secara kreatif.
Tantangan dukungan dan ekosistem seni
Hikmat Darmawan menyoroti perlunya dukungan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan ruang aman kebudayaan. Ia mengingatkan bahwa ekosistem seni, khususnya di Jakarta, menghadapi keterbatasan sumber daya.
"Saya nggak harusnya di sini, tapi ada masalah mendesak yaitu kesadaran pemerintah, pemprov, masyarakat menjaga ruang aman. Ekosistem seni banyak berada di Jakarta, dan Madani salah satunya, Madani sudah sembilan tahun,"
Panitia berharap Madani tidak mengalami nasib serupa beberapa acara lain yang mendapat dukungan publik minim. Dukungan bersama dinilai penting agar ruang seni dapat memperkuat kesejahteraan warga secara berkelanjutan.
Penutup
Madani Film Festival 2026 mempertontonkan upaya menggabungkan seni dan gagasan keagamaan yang berakar pada pengalaman warga. Ke depan festival berpeluang menjadi ruang dialog lintas budaya jika mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat untuk mempertahankan ekosistemnya.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Song Kang dan Kim Sohyun Reuni di Drakor 'White Scandal'
Song Kang dan Kim Sohyun dipastikan reuni sebagai pemeran utama drama MBC 'White Scandal', adaptasi webtoon...
DKJ Imbau Warga Waspada Pembelian Tiket 'Orchestra Experience'
DKJ mengimbau warga berhati-hati membeli tiket 'Orchestra Experience' setelah laporan dan pembatalan mendada...
Olivia Pilih Isyana untuk Lagu Pancasila Beraransemen Orkestra
Produser Olivia Zallianty memilih Isyana Sarasvati menyanyikan lagu Pancasila versi orkestra untuk menjangka...
Lee Jae Wook Bintangi Dead-End Job, Tayang 30 Oktober 2026
Lee Jae Wook membintangi serial Netflix Dead-End Job, tentang pekerja paruh waktu yang menerima tawaran berb...
Serial Fast & Furious Tayang 2028, Vin Diesel Jadi Produser
Peacock setujui serial Fast & Furious tayang 2028; Vin Diesel akan menjadi produser eksekutif dan proyek ber...
Winky, Afgan, Maxime Rilis Single 'AURA' Berbalut Funk dan Dance
Winky Wiryawan, Afgan, dan Maxime Bouttier merilis single AURA, lagu funk-dance hasil jamming yang bertujuan...