LSF: Gerakan Budaya Sensor Mandiri untuk Lindungi Anak dari Konten Tak Sesuai
Lembaga Sensor Film (LSF)
Acara dan tujuan
Acara ini menayangkan film Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis, disertai diskusi bersama anggota LSF, insan perfilman, produser, sutradara, dan pemeran. Tujuannya dua arah: memperkuat literasi pilihan tontonan serta mengedukasi publik soal pentingnya sensor mandiri.
Risiko konten digital pada anak
Ketua LSF RI, Naswardi, menyatakan perkembangan teknologi mengubah pola akses tontonan. Hasil survei nasional LSF 2024 menunjukkan sekitar 72 persen masyarakat kini lebih sering menonton lewat internet, layanan OTT, video on demand, dan media sosial.
Menurut Naswardi, tidak semua konten digital menjalani filtrasi atau kurasi. Akibatnya, anak-anak berisiko terpapar konten yang tidak sesuai usianya, seperti pornografi, kekerasan, perjudian, narkotika, dan materi sensitif lain.
"Mari menjadi bagian dari literasi budaya sensor mandiri. Mari memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia kita masing-masing,"
Peran LSF dan data STLS
Naswardi menjelaskan LSF menerbitkan sekitar 41 ribu Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) setiap tahunnya. Penerbitan STLS merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman. Film dari 33 negara juga masuk ke Indonesia dan dinilai sebelum diedarkan kepada publik.
Dia menekankan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri bukan sekadar kebijakan pusat. Gerakan ini bertujuan membekali masyarakat agar memiliki kesadaran memilih tontonan yang aman, bermutu, dan sesuai usia.
Dukungan pemerintah daerah
Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menyatakan Pemkot Depok mendukung penuh GNBSM. Depok dipilih sebagai salah satu lokasi pencanangan gerakan untuk memberikan edukasi publik secara langsung.
Chandra menilai film juga berfungsi sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter. Ia menilai kedua film yang diputar mengusung pesan moral penting, terutama soal komunikasi antara orang tua dan anak.
Pelaksanaan nonton bareng
Kegiatan menghadirkan dua studio pemutaran dan sesi diskusi untuk memperkuat literasi perfilman di kalangan masyarakat.
- Studio 5: Takkan Kubiarkan Kau Menangis
- Studio 6: Jangan Buang Ibu
Dengan kombinasi pemutaran dan dialog, LSF berharap masyarakat, terutama kaum muda, lebih aktif dalam menerapkan budaya sensor mandiri saat memilih konten digital.
Ke depan, LSF berencana memperluas program literasi ini ke kota-kota lain untuk menjangkau lebih banyak keluarga dan komunitas.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Episode Perdana Serial Harry Potter Belum Selesai Jelang Tayang 2026
HBO masih menyempurnakan episode pertama serial Harry Potter yang dijadwalkan tayang 25 Desember 2026; tim p...
Ipang Rilis 'Tandeman' sebagai OST Film Operasi Pesta Copet
Ipang Lazuardi merilis 'Tandeman' sebagai OST film Operasi Pesta Copet; video musik dirilis 17 Juli 2026, fi...
Sinemaku Luncurkan Website Edukasi Jelang 'Memburu Pemangsa'
Sinemaku Pictures meluncurkan situs edukasi memburupemangsa.com untuk tingkatkan kesadaran publik soal pencu...
BAZNAS Nobar 'Takkan Ku Biarkan Kau Menangis' untuk Penguatan Keluarga
BAZNAS menggelar nobar film 'Takkan Ku Biarkan Kau Menangis' pada 13 Juli 2026 di Epicentrum XXI untuk mempe...
Mortal Kombat 2 Tayang di HBO Max 24 Juli 2026
Mortal Kombat 2 akan tayang di HBO Max mulai 24 Juli 2026, menampilkan Karl Urban dan karakter baru dari fra...
Aku Sebelum Aku: Film Netflix Angkat Jati Diri dan Kesehatan Mental
Film 'Aku Sebelum Aku' karya Gina S. Noer tayang di Netflix 16 Juli 2026, menyorot pencarian jati diri dan i...